Play has began

Oleh Ridha Perwira ( kontributor Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia )
Pernah menjadi sebuah pokok pembicaraan dalam forum kecil-kecilan anak Batam yang berada di tanah rantau , yang isi percakapannya penuh dengan kekentalan logat melayu, intonasi asli dari turunan orang tuanya, dan tak lupa kata akhiran khas Batam yang tak bisa diartikan dari pakar bahasa manapun, tapi menjadi bumbu wajib dalam sebuah percakapan, yaitu berkhir dengan kalimat “wak”, tak g4ul namanya jika akhiran kalimat dengan intonasi khas melayu tak di akhiri dengan kalimat “wak”, dari nada sedikit di sengaukan ke hidung.
Isi pokok pembicaraannya sederhana, yaitu mengenai pendapat anak muda daerah lain mengenai anak muda batam yang ada di tanah rantau.
Jika dari sudut pandang mahasiswa, ideologi yang dianut bukan sosisalis ato liberalis, yang diperjuangkan untuk kesejahtraan Negara dan bangsa, tapi hedonis, iya hedonisme, yang diperjuangkan untuk kesejahtraan kenikmatan. Walaupun tidak semua dan mudah-mudahan tidak banyak, tapi pandangan itulah yang terbentuk, walaupun hanya bersifat stereotype yang masih hanya asumsi asumsi belaka, tapi jika kita lihat dari aspek kemasyarakat, memang seperti itu metode masyarakat menilai, kejelekan yang lebih di pegang sebagai pedoman, dan mengenyampingkan perbuatan dan jasa jasa yang baik, karena memang banyak juga para rerantau yang berjuang keras dalam kesederhanaannya, tapi sekali lagi aspek itu tidak di jadikan pedoman. Rerantau Batam sesekali digambari sebagai rerantau “tanpa batas”, tanpa batas keuangan dan tanpa batas dalam segala fasilitas. Dan sering di temukan ada di dalam klab malam, yang memang tempat dengan tujuan mengasah ideologi hedonisme, sekali lagi, walaupun banyak juga yang berjuang dengan kesederhanaan.
Contoh itu bisa di gambarkan untuk para remaja yang ada di Batamnya juga, yang seakan haus akan sebuah prestise, dan hal hal yang terjebak dalam pergejolakan pergaulan. Bukan dilarang untuk mengikuti zaman, mode dan keadaan sekitarnya, tapi jika kita lihat para remaja yang ada di kota kota besar, seperti Jakarta, bogor, bandung, Yogyakarta dan kota-kota lainnya, yang mereka tidak hanya sebagai sampah produsen, dan menjadi konsumen sampai mati, tetapi mereka berani untuk menjadi produsen itu sendiri, dan yang sangat disesalkan adalah ketidak konsistenan dalam menggeluguti satu cabang komunitas, yang akhirnya tidak mendapat sebuah kefokusan yang mendasar.
Pernah seorang fotografer Still Life ternama di Indonesia bernama Novijan Sanjaya, dia mengibaratkan kefokusan itu seperti berjualan, dia mengatakan, “kalo jualan gado-gado gak enak, terus pindah jadi jualan bakso, kapan mau enak gado-gadomu?”, seperti itulah gambaran mengenai ke fokusan dalam bergerak di satu bidang. Seperti contohnya yang telah terjadi dalam era-era komunitas otomotif, skate, graffiti, breakdance, fotografi, yang seakan hanya mengikuti pergaulan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dalam bahasa melayunya “meranyah”, tetapi sangat bagus ketika seseorang yang menjadikan transisi-transisi itu sebagai proses, bukan sebagai ajang pertunjukan eksistensi, yang hanya bertujuan untuk bertinggi hati, karena ketika seseorang itu menjadikan transisi itu sebagi proses pembelajran, akan mendapat banyak nilai plus-lah dia, seperti anak-anak komunitas graffiti atau streer art yang berpindah menjadi komunitas yang tetap berhubungan dengan visual, seperti fotografi dan design grafis, karena dalam fotografi jiwa street art juga salah satu nilai plus berkarya dalam hal kepekaan, seperti juga halnya design grafis yang membutuhkan ilmu fotografi, lalu seperti komunitas otomotif yang bergerak dalam fokus modifikasi body dan mesin, yang ketika ia masuk dalam komunitas modifikasi dengan fokus balap, banyak hal yang lebih awal ia sudah dapatkan. Itu semu menjadi sebuah keterkaitan jika ia menjadikan transis-transisi itu sebagai proses, dan yang sangat mengenaskan adalah para plagiator, yang hanya bisa mengikuti sebuah komunitas, dengan tujuan untuk meraih hal-hal yang diluar tujuan utama komunitas itu dan lebih condong ke pada ke negativan. Dapat di ambil contoh sebuah kesuksesan dalam menjalani sebuah ke fokusan, adalah komunitas musik yang dari dulu tetap berjalan dengan kekonsistenannya, dan sudah banyak berhasil di kota-kota besar.
Dan lebih parahnya lagi adalah para pencari jati diri yang haus akan prestise dan eksistensi, yang tidak begabung dalam komunitas dan kerjanya hanya mencari cara untuk mendapat kesenangan materi dan selalu menjadi objek para produsen, dan menjadi para manusia terjebak zaman, alias ikut-ikut trend saja. Sampai habis masa trendnya, ia hanya berpindah dan tetap menjadi objek produsen.
Tetapi semua gejolak-gejolak perkembangan pergaulan anak muda tersebut adalah titik awal dalam sebuah kesuksesan pergaulan Batam yang konsisten, bermanfaat dan menjadi contoh kreatif bagi anak muda lainnya. tidak hanya sekedar bermain, tapi menularkan virus virus kreatifitas, mengangkat marwah menjunjung martabat, dan mungkin ini lah sekarang tanda nya permainan telah di mulai.
Redaksi
Seiring dengan perkembangan teknologi, media elektronik memang dibutuhkan, tetapi saat ini masih ada beberapa kelemahan seperti kesempatan menggunakan, keterbacaan, fleksibilitas, keterbawaan, dll. Untuk itu, media literasi dalam bentuk cetak masih mutlak diperlukan sebagai sumber informasi objektif yang dapat dipertanggungjawabkan dan peningkatan kemampuan dasar berpikir kritis untuk hidup di abad informasi. Tiap hari kita diterpa ribuan informasi. Kita harus selektif dalam memilih informasi mana yang akan kita respon. Karena batas antara informasi yang benar dan salah, valid dan invalid semakin kabur. Kita juga harus cerdas dalam menggunakan informasi.
Literasi media tidak melihat latar pendidikan seseorang. Karena literasi media sebenarnya cara pandang dari mana sesorang membuka diri terhadap media dan memaknai pesan yang ia terima dari media. Potter (2001: 7) mengatakan bahwa literasi media bukanlah sebuah kategori, layaknya status, apakah kita termasuk di dalamnya atau tidak. Potter melanjutkan bahwa literasi media adalah sebuah rangkaian kesatuan (continuum). Ia menganalogikan literasi media dengan sebuah termometer yang mana terdapat derajat untuk menunjukkan tingkatan
atau kualitas.
Dengan tanpa mengesampingkan sederetan teori dan metode penelitian media, sebenarnya literasi media hanya masalah kebiasaan saja. Kebiasaan mengkonsumsi media idealnya diiringi dengan pembiasaan untuk mencermati, menganalisis maksud dari media tersebut. Meskipun seseorang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang memadai untuk menjadi media- watcher, belum tentu ia mau untuk mengkritisi media. Pembiaran yang terjadi berulang kali
membuat komunitas yang bersangkutan menganggap pesan-pesan negatif di media adalah hal biasa dan lumrah. Pada akhirnya yang terjadi adalah berkurangnya tingkat sensitivitas (desensitization) terhadap pesan negatif media bahkan bisa saja malah mengamini. Kenyataan berbicara bahwa komunitas Fingerfast belum semuanya terbiasa melakukan komunikasi tertulis. Banyak yang lebih mudah menyampaikan informasi melalui lisan. Informasi lisan rentan pada subjektivitas dan sulit dipertanggungjawabkan. Menulis adalah aktivitas yang tidak bisa dipisahkan penyandang status kaum akademisi. Aktivitas intelektual adalah proses berpikir, mengamati, berdiskusi antar komunitas (stakeholders).
Mempublikasikan hasil refleksi atas realitas ke dalam karya tulis bukan sekedar untuk mencari status, julukan ataupun akademis. Sebuah karya tulis disusun dan dipublikasikan lebih sebagai tanggung jawab moral kepada masyarakat (stakeholders). Selain kebiasaan menulis yang masih sangat minim, permasalahan yang dihadapi stakeholders adalah keterbatasan sumber informasi berimbang yang menunjang perubahan Fingerfast menjadi lebih baik.
PLAYMAGZ
Sebagai Komunitas Non profit yang besar dan bergerak dibidang jasa, pendidikan, dan new media art, Fingerfast Laboratory! perlu memiliki media informasi dan komunikasi dalam bentuk cetak. Di samping sebagai media publikasi, promosi, dan komunikasi, media cetak ini juga sebagai media diskusi, proses kreatif, dan penyampaian aspirasi tertulis yang bertanggung jawab.
Berkaiatan dengan jasa maka akan berkaitan dengan costumers dan atau stakeholders. Fingerfast Laboratory! akan senantiasa berkaitan secara signifikan dengan (i) pemerintah daerah, (ii) Pemuda tempatan , (iii) mahasiswa nasional dan internasional , dan (iv) instansi pemerintah terkait, serta (v) masyarakat luas. Fingerfast Laboratory akan membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang banyak apabila tidak tepat dalam penggunaan media komunikasi dan
informasi.
Youth city icon merupakan salah satu terobosan yang ingin dicapai dalam transisi untuk membranding sebuah kota, dalam pencapaian proses tersebut membutuhkan sebuah semangat kepemudaan untuk mengasah kreatifitas dalam sebuah wadah dan media. Berdasarkan rasionalitas dan latar belakang di atas, majalah ini hadir sebagai upaya menyikapi hal tersebut. Media ini didirikan dengan beberapa tujuan antara lain :
Menyediakan media informasi dan komunikasi dalam bentuk cetak dan digital. Di samping sebagai media publikasi, promosi, dan komunikasi, media cetak ini juga sebagai media diskusi, proses kreatif, dan penyampaian aspirasi tertulis yang bertanggung jawab.
Membudayakan komunikasi secara tertulis untuk menyampaikan opini, kritik atau ide di media massa.
Menyediakan ruang berekspresi dan apresiasi bagi pemuda, siswa, dan mahasiswa lainnya.
Memberikan informasi, panduan, serta tips-tips yang dibutuhkan bagi pemuda, siswa, dan mahasiswa lainnya.
MEDIA
Jenis media yang dipilih adalah medium magazine. Pemilihan format majalah karena kelebihan yang dimiliki majalah baik secara fisik maupun materi berita dibanding format media lainnya. Secara fisik, format majalah memiliki karakteristik:
1.Lebih menarik, dengan adanya ilustrasi, gambar maupun foto.
2.Mudah dibawa sehingga bisa dibaca di mana saja.
3.Bersifat personal, tidak seperti tabloid, koran atau newsletter yang bisa dibaca beramai- ramai.
4.Dijilid dengan baik sehingga mudah didokumentasikan. Secara kualitas, majalah bisa memuat tulisan yang lebih banyak dan panjang. Sehingga memungkinkan untuk menyajikan liputan berita secara lebih mendalam dan menyeluruh.
PLAY
Alternatif nama media ini adalah: PLAY atau MULAI/ MAIN
1. Media yang menyediakan ruang kebebasan bagi ekspresi, gagasan dan pemikiran. Sebuah habitus intelektual bagi manajemen, pemuda, siswa/mahasiswa, dan stakeholders lainnya dalam berekspresi, saling bertukar gagasan.
2. Menjalankan fungsi solidarity maker di antara manajemen, pemuda, siswa/mahasiswa, dan stakeholders lainnya. Menumbuhkan semangat dan tekad untuk bersama-sama memajukan Fingerfast Laboratory!. Keteguhan semangat yang kokoh.
VISION
" Membentuk Batam dalam Youth City Icon"
PARADIGMA
Dengan melihat realitas lingkungan dan Fingerfast Laboratory! dan sumber daya yang ada serta idealitas yang hendak diraih, paradigma yang digunakan dalam pendirian media ini adalah perpaduan dua paradigma yaitu misionaris dan pasar. Namun lebih condong pada paradigma yang pertama. Pemilihan paradigma ini lebih disebabkan alasan pragmatis dan praktis. Secara struktural, media ini memiliki berada di bawah payung Fingerfast Laboratory!. Hubungan struktural ini membawa konsekuensi bahwa media ini dituntut untuk bisa memenuhi keinginan dan kebutuhan informasi pembaca tanpa harus menanggalkan idealisme komunitas Fingerfast Laboratory!.
Untuk menjaga kontinuitas penerbitan, media ini akan banyak bergantung pada anggaran dari Fingerfast Laboratory!, meskipun tidak menutup kemungkinan dari iklan dan kerja sama/donasi dari pihak lain. Dengan adanya sumber dana tersebut, media ini bisa dinikmati stakeholders dengan gratis.
READER
Sasaran pembaca majalah ini dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan kontribusi yang diharapkan dari mereka.
Primer
Seluruh partisipant local Batam dan Kepulaun Riau
Sekunder
Masyarakat Umum dan Instansi/Organisasi Pemerintah dan Swasta terkait.
Tersier
Seluruh partisipasi, siswa/mahasiswa nasional dan kontributor di beberapa negara Asia Tenggara
PUBLICATION
Pada kondisi Fingerfast Laboratory!, dimungkinkan bahwa keberlangsungan majalah akan bergantung pada animo pembaca yang akan mempengaruhi animo tim majalah. Agar majalah Play bisa dikenal dan diminati secara luas dan cepat ke segmen pembacanya, perlu dirancang suatu bauran yang meliputi publikasi, promosi, dan distribusi yang tepat.
Beberapa strategi yang akan dilakukan untuk mempromosikan majalah adalah:
penyebaran pamflet, selambatnya seminggu sebelum terbit, dilakukan penempelan dan penyebaran pamflet terkait launching media baru di lingkungan dalam dan luar Fingerfast Laboratory!.
Jaringan organisasi, pengenalan Majalah Ekspresi dalam acara Fingerfast Laboratory! dan komunitasnya
Launching Media, mengadakan acara launching perdana dan diskusi/dialog tentang media- watch dengan mengundang ahli. Strategi distribusi agar majalah dapat dengan mudah dan cepat sampai ditangan pembaca antara lain :
Melalui unit-unit di komunitas Fingerfast Laboratory! Batam Indie Fresh, Batam Rawk & Punk, Batam Headbang, Batam Hip Hop, Batam Hardcore City, Batam Motor Club, Batam Automotive Club
Batam Digital Island, Batam Street Ball, Batam Skate Board Community, Batam Inline Skater Community, Batam Facebook Community, Batam Classic Community, Batam Mio Club, Batam Tiger Brother, Batam Vespa Club, Batam Aliansi Motor Club, Batam Speed Automotive , Koordinasi dan kerjasama dengan Komite Sekolah dan Perguruan Tinggi , Direct Mail, instansi, dan organisasi terkait dan pemasangan banner Iklan Play Magz di www.fingerfast.com
ADS
Pada edisi-edisi berikutnya, tidak menutup kemungkinan Majalah Play akan menerima dan atau mencari iklan-iklan untuk menunjang peningkatan kualitas-kuantitas penerbitan. Iklan yang dapat masuk adalah iklan yang tidak bertolak belakang dengan visi dan misi Majalah Play.
EDITOR
Pembina, bertanggung jawab terhadap pembinaan keseluruhan jalannya organisasi penerbitan, terutama menentukan kebijaksanaan organisasi secara eksternal. Posisi ini dipegang oleh Walikota Batam, Bapak Drs.H.Ahmad Dahlan, MM.MH
Director, bertanggung jawab terhadap keseluruhan jalannya organisasi penerbitan, menentukan kebijaksanaan internal organisasi. Posisi ini dipegang oleh Founder Fingerfast Laboratory!
Pemimpin Redaksi: Ammar Satria
Pimred secara umum bertanggung jawab atas kebijakan dan strategi redaksional sesuai dengan nilai dan visi-misi media. Secara keseluruhan bertanggung jawab terhadap operasionalisasi majalah baik jalannya produksi maupun isi majalah. Selain itu Pemimpin redaksi bertugas merencanakan, mengkoordinasikan dan bertanggung jawab terhadap isi materi majalah yang dibuat oleh staf redaksi. Posisi ini dipegang oleh Bidang Humas. Secara spesifik, Pimred memiliki tanggung jawab untuk:
1. Mengkoordinasikan penentuan visi dan misi buletin
2. Mengkoordinasikan agar bulletin terbit sesuai dengan waktunya
3. Memimpin rapat penerbitan (1)
4. Menentukan rubrik
5. Menentukan penulis/penanggung jawab/nara sumber
6. Menentukan dead line pengumpulan naskah
7. Menentukan kelayakan materi
8. Editing naskah
9. Pemilihan foto
10.Menentukan desain grafis
11.Recheck & finishing
12.Menentukan dead line penerbitan
13.Monitoring dari awal sampai ke penerbitan
Redaktur I : Dodo
Redaktur I bertanggung jawab terhadap pengumpulan, pencarian, dan pengeditan redaksi dan isi: (i) Laporan Utama, dan (ii) Laporan pendukung, yang meliputi artikel dan opini.
Redaktur II : Fitrah Saputra
Redaktur II bertanggung jawab terhadap Edit/korektor, Layout/Desain, Penerbitan, Publikasi, Promosi, dan Distribusi. Termasuk juga membuat notulen rapat, mengumpulkan, mengarsipkan naskah. Pada penerbitan ini diharapkan terjadi kerja tim yang saling membantu secara keseluruhan.
Reporter : Yoshie Abdul Rashide, Marcello Luis, Tyo Adi Wicaksono, Aiko, Riva, Beatrix, Nurul Syafitri, Juno, Angga, Dayat, Anju, Dimas.
Reporter dapat melibatkan kegiatan pada unit yang bersangkutan dengan arahan Tim Redaksi sesuai dengan unitnya masing-masing. Kontributor : Masing-masing unit yang dibantu/pantau oleh reporter sesuai dengan unitnya
Fotografi : Fitrah Saputra, Yuli Seperi, Ridho Perwira, Kamarudin Aep.
Executive Marketing : Nurul Syafitri (Hp.+6281372594410)
/ Creative Director Dodo’
/ Graphic Designer tyo
/ Digital Imaging Yosi Rashied & Marcel Mucak
/ Event Organizer & Photographer Fitrah Saputra
/ Web designer yaya’
/ Music Editor | Arbie
/ Visual illustration | Arita
/ Fashion Editor | Gladies
/ Lawer Consultant | Abdul Rahman
/ Batam | Junior, Deni Iqbal Teruna, Edo, Dayat, Rangga, Beatrix
/ Bandung | Dimas
/ Jakarta | Riva
/ Bali | Vya
/ Bintan | Aep Kamarudin
/ Makasar | Adi Putra
/ Yogyakarta | Ridho Perwira
/ Malang | Evan Putraliza
/ Malaysia | Dimas Putra Purnomo
/ Beijing | Myra
/ Dubai | Mutaz
/ Belanda | Putri
/ Mongolia | Bahtetar
/ Yaman | Ahmad
Lingga Discovery

Trippin RockNRoll
Anda suka jalan-jalan ? maka masukkanlah Lingga dalam daftar tempat yang akan anda kunjungi, mengapa? Mungkin Lingga akan memberikan pengalaman petualangan yang bisa mengorgasmekan adrenalin dan memperkaya spiritual anda.
]Jika memang waktu liburnya panjang maka mulailah perjalanan anda dari Pulau Benan, disini anda bisa memanjakan mata melihat hamparan terumbu karang, lautnya bening, crystal clear water, andai tak puas cuma snorkeling carilah peralatan deep diving, tanyakan pada warganya atau carilah petugas Coremap disitu, mereka akan dengan senang hati mengajak anda menyelam. Dari pada repot-repot berkemah selama berada di pulau itu mending dekati warganya, menginaplah dirumah penduduk, semacam guest house lah konsepnya, keluarkan beberapa rupiah untuk keperluan makan minum dan MCK selama berada dirumah yang anda tumpangi itu, sebaiknya berundinglah terlebih dahulu tentang besaran angka ongkos menginap tersebut biar tidak menimbulkan salah paham dikemudiannya. Bagi anda yang hidup di kota besar serba industrial mungkin dengan tinggal bersama sebuah keluarga sederhana di pulau yang sedemikian ini akan memberi pengalaman unik tersendiri, akan anda temukan nilai-nilai kehidupan sebuah keluarga yang sudah jarang anda lihat dalam lingkungan perkotaan anda.Jangan berpikir yang tidak-tidak, ketika memasuki tempat yang baru anda datangi ingatlah pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
Selanjutnya anda bisa meneruskan perjalanan menuju ke lingga, ada dua jalur untuk menuju kesana, jalur pertama adalah lewat Pancur dan jalur lainnya melalui Tg.Buton, saran saya pilihlah jalur pertama, Pancur, lebih seru!
Jika ingin perjalanan anda lebih seru lagi janganlah menumpang dengan ferry regular, tanyakan pada warga apakah ada kapal ikan, kapal kargo atau kapal apalah yang akan berlayar dari Benan saat itu yang tujuannya ke Senayang tau pulau lainya yang searah, estafet saja, dengan begitu perjalanan anda akan benar-benar free and easy ,tak terduga, jadi punya kesempatan lebih untuk menambah wawasan sosial melalui interaksi dengan orang – orang di kapal yang ditumpangi, anda bisa tahu pahit manisnya jadi awak kapal kecil yang pelayarannya kadang dibenturkan dengan korupnya biroraksi aparat pelabuhan, bisa mencuri ilmu dari nakhoda yang sudah sarat asam garamnya melayari samudera, atau cobalah ikutan memasak hidangan diatas kuali yang bergerak-gerak karena kapal dihempas gelombang, atau paling tidak anda akan bersyukur dengan apa yang sudah anda capai selama ini setelah mendengar pahitnya takdir hidup yang harus ditempuh orang – orang itu. Sempatkan juga memandang indahnya lanskap alam yang terhampar disepanjang garis horizon itu, decak kagum akan terbersit di hati anda, sebari bertasbih mensyukuri nikmat Tuhan yang telah memberikan anda kesempatan berkelana sejauh itu. Jauh perjalanan luas pandangan bertambah pengetahuan dan pengalaman.
Senayang adalah ibukota kecamatan, pulaunya kecil dengan panjang hampir dua kilometer dan lebarnya lebih kurang 250 meteran. Di depan Senayang tersergam indah pulau Sebangka dengan kontur perbukitan yang masih lebat hutannya. Jika sedang musim kelong anda akan temukan ikan bilis yang dijemur hampir diseluruh perkarangan warga, biasanya dari jam 7 sampai jam 9 pagi.
Ketika berada di Senayang untuk transit melanjutkan perjalanan keesokan harinya tak banyak aktivitas adventure yang bisa anda lakukan karena waktu yang sempit, andai ingin tinggal lebih lama di Senayang anda harus sempatkan diri melihat Pulau Penaah yang bisa dijangkau dengan pompong, sama seperti disemua pulau-pulau di Kepri ini anda tetap akan menemukan keramahan-keramahan khas orang Melayu disini, selama di Penaah sempatkanlah untuk menyendiri sebentar di tanjungnya, bersandar dibawah rindangnya pohon atau cari ayunan, stel lagu favorit anda dari Ipod, khayati iramanya dan biarkan hembusan sepoinya angin menyapa anda sambil terus berkhayal seolah-olah melihat Shandra Dewi sedang berenang memakai two piece swimsuit di birunya laguna perairan Pulau Penaah, ajjiiibb……
Andai mau melihat perkampungan nelayan yang masih cupu, sepulangnya dari Pulau Penaah singgah lah ke Laboh.
Perjalanan dari Senayang ke Pancur lebih kurang 15 menit jika menumpang dengan ferry regular, biasanya berangkat pada pukul 3 sore. Setibanya di Pancur sempatkan untuk melihat – melihat jauh sampai ke dalamnya, anda akan temukan sebuah pemukiman bergaya waterfront city, penduduknya didominasi melayu dan tiong hoa.
Selanjutnya anda akan menuju Resun menggunakan perahu pancung dengan ongkos 25 ribu, selama lebih kurang 20 menit anda akan melaju menyusuri sungai yang rimbun dengan hutan mangrove di sepanjang jalannya, kalau jeli memandang anda bisa temukan buaya yang sedang kalem berburu mangsa di sepanjang badan sungai . Setelah tiba di Resun berari anda telah berada di daratan Pulau Lingga, silahkan atur jadwal tour anda.
Selama berada di Daek usahakanlah untuk bangun sepagi mungkin, jika anda seorang muslim sempatkan lah untuk berjamaah sholat subuh di Mesjid Sultan. Anda bisa mengisi pagi itu dengan berlari-lari kecil sambil melihat-lihat pemandangan yang ada, menghirup udara segar dibawah rimbumnya pepohonan, jika mau sarapan langkahkanlah kaki anda menuju pasar di Kampong Cina, ada banyak juadah dijual disana, silahkan pilih sesuai selera. Mulailah membangun jaringan dengan penduduk local, nongkrong aja di kedai kopi, dengan mudah anda akan mendapat teman, asal jangan belagu. Menjelang siang bolehlah mampir ke Museum Linggam Cahaya, ada banyak koleksi yang menarik untuk dilihat, lumayan kan buat pemahaman kultural masa silam, kebetulan disitu juga ada Kantor Dinas Pariwisata Lingga, jadi anda bisa dapat informasi banyak seputar objek wisatanya.
Agar seru penjelajahannya lebih baik gunakan motor trail atau bebek juga boleh asal standart grasstrack, dengan begitu lebih banyak lagi tempat yang bisa anda jangkau. Sebagian besar jalan di Lingga masih dalam tahap pembangunan, jalan tanahnya lebar jadi pas kali buat memacu motor sekencang-kencangnya asal control aja, rute arah Sei.Tenam, Centeng atau pantai Penarik sama enaknya, kontur jalannya offroad abis, rute ini memberikan anda pengalaman berkendara yang mengesankan, sejauh mata memandang terlihat sanggamnya panorama hutan tadah hujan yang hijau menyelimuti gunung, sesekali anda akan disapa keramahan penduduk local, andai letih berhenti saja didekat pemukiman, kalau untuk nasi belum tentu tapi kalau setakat secangkir kopi atau teh pasti dihidangkan penduduknya buat anda.
Andai ingin berpetualang lebih jauh lagi disarankan jangan sendiri, ajaklah beberapa kawan anda yang sepaham, biar makin nendang! Boleh dibilang Pulau Lingga cocok buat berkegiatan alam bebas. Seperti berkemah, daki gunung, berburu, snorkeling, windsurfing, hiking dan sebagainya karena hutan sebagian besar hutan Lingga masih asri, meski ada juga yang digundulkan secara massif oleh tangan-tangan manusia berjiwa kerdil. Buat penggemar adventure offroad, anda harus kesana. Dibandingkan dengan rute Rainforest Challenge Malaysia yang hanya seputaran kebun karet dan sawit, Alam Lingga bisa menyajikan lebih dari itu. Jangankan satu dua hari, mau seminggu pun didalam hutannya tak kan rata anda menjelajah saking banyaknya jalan eks balak yang berseliweran disana, jangan pernah takabur membanggakan teknologi yang ada bersama anda ketika beroffroad di Lingga, itu tak akan menjamin anda untuk bisa dengan entengnya menaklukan medan alam yang kadang menggiring kita ke titik nadir.
Kalau sudah belengas tuh badan cobalah mandi di Lubuk Papan, pasti segar-sesegarnya lah, airnya bening dan sejuk dengan persekitaran yang teduh dan rindang.Ada seutas tali terikat di dahan pohon, silahkan jadi Tarzan, nyeburlah sambil melayang dengan tali itu. Temukan keriangan masa kecil anda yang sempat hilang itu.
Andai tertarik dengan sejarah dan suka mendengar cerita-cerita legenda di Daek ada banyak orang tua yang senang membagi kisah, memberi petuah atau sekedar bebual-bual santai, kalau pintar anda bergaul maka ketemulah orang yang berisi itu, galilah apa yang patu digali. Anda sedang berada di Bunda Tanah Melayu, sayang kalau hanya plesiran cuci mata dan pulang tanpa membawa apa-apa.
Halaman Belakang Rumah Kita

Pedalaman Lagoi , 14 Juni 2009
Suara burung berkicau di rimbunan bakau beralun merdu bersautan memecah pagi, nikmat rasanya mendengar nyanyian burung – burung pagi itu. Pengalaman itu akan mungkin sulit dicari jika kita hidup di tengah kota, bahkan untuk kota sekecil Tanjungpinang sekalipun. Mentari masih berada dibawah garis horizon hanya tampak merona menghiasi kaki langit, agas yang menyerang sepanjang malam membuat tidur tak lelap masih seliweran diatas kulit, mencoba mengisap darah saya yang mungkin sudah menyimpan hepatitis ini, sisa letih berkubang di lumpur malam tadi melepaskan jip yang terjebak didalamnya belum juga hilang dari badan., tapi apa lacur ini bukan sebuah libur akhir pekan untuk berleha- leha santai, tapi ini adventure offroad , sebuah weekend trip garis keras, hardcore candy buat para adrenaline junkie. Tak lama berselang semua pun bangun, ada yang manasin mobil, menyeduh kopi dan masak pop mie, sebagian lagi milih duduk mencangkong di tepi sungai, biasalah urusan jamban. “ Baru kali ini awak buang air model kakus terbang gini bro, asik rupanya e “ kata si Didit, seorang rekan offroad dari Kijang. “Akh.nampak kali waktu kecilnya banyak maen Nintendo, tak lasak merayau kemana –mana, jadi tak pernah menjamban di bakau “. Jawab Adi, ( anggota Kijang Jip Club ) mengomentari Didit.
Timbunan kayu balak pancang kelong menjadi tempat kami menikmati kopi Aceh, topik kami ngopi pagi itu adalah kemana rute penjelajahan ini selanjutnya, ada yang mengusulkan masuk ke daerah Bukit Babi, karena jalan disitu banyak handicap yang bisa menguji rentang travel suspensi mobil, ada yang mengajak masuk ke dalam hutan di dekat jalur balak, karena ada lumpur kecil yang lumayan dalam bisa dijejal disitu, “ Jangan ke lumpur itu lah, penat juga nih maen kat lumpur trus “ pinta Kurniawan, punggawa Bintan Island Offroad Community. Setelah debat – debat kecil akhirnya semua sepakat mencari rute baru saja, dan kali ini arahnya menuju kampung nelayan di Pantai Senggiling. Rupanya ada yang baru pertama kali offroad diantara ketujuh jip itu, jadi harus dipertimbangkan juga kesiapan jipnya andai mau dibawa menjejal lintasan yang banyak menuntut ketangguhan mesin dan teknologi pada jipnya.
Tepat pukul enam pagi konvoi jip pun bergerak meninggalkan tempat perkemahan melewati perkampungan kecil tak jauh dari jembatan Senggiling – Pengudang, setelah “melahap” lumpur di jalan setapak dan sempat tarik menarik jip konvoi pun berlalu dari perkampungan kecil itu, mendaki bukit membelah padang ilalang, hijau sepanjang mata memandang, embun masih tampak belum berganjak diterpa sinar matahari. Dikiri kanan terlihatlah lanskap sisi lain Pulau Bintan yang masih belum ramai didatangi manusia itu, masih asri, masih menyisakan hutan hijau yang tinggal tak seberapa lagi itu. Bahagia rasanya masih bisa menikmati pemandangan indah seperti itu di Pulau Bintan ini, di “halaman belakang rumah kita “. Saya telah merayau hampir seluruh pelosok di Pulau Bintan ini, banyak hal yang sudah saya temukan di Bintan, banyak hikayat yang sudah saya dengar tentang kebertuahan tanah ini, yang dibutuhkan tanah ini sekarang adalah manusia – manusia berjiwa besar untuk membangunnya, bukan bangsat bangsa bertopeng anak bangsa yang belakang banyak berlalu lalang. Hampir seluruh wilayah utara Pulau Bintan ini dikuasai PT.Buana Mega Wisata, carut marut ganti rugi pembebasan lahannya beberapa tahun dahulu sempat berbuntut tragedi berdarah, hingga hari ini kasus tanah di Lagoi masih menjadi duri didalam daging.
Selama melintas di padang savanna itu kendaraan berjalan pelan, karena lalangnya tinggi dan lebat kami tidak tahu kondisi dipermukaan tanahnya, mau digeber laju ada sedikit keraguan, risau kalau disebalik lalang itu ada batu atau tali air yang bisa menjebak jip.
Sekitar pukul delapan semua jip sudah berada disebuah pantai yang terletak diantara Pengudang dan Senggiling. Air laut yang sudah keburu pasang membuat rencana mau ke Senggiling dengan menyusuri tepian karang dibatalkan, konvoi bergerak menerabas semak kecil dibelakang bukit, ada jalan setapak yang menggiring kami ke sebuah jembatan tak terpakai yang melintang diatas sungai air payau. Setelah lebih setengah jam menyusun kayu balak yang terlepas dari jembatan akhirnya jip Suzuki tunggangan Marzon mencoba melintas diatasnya, terseok- seok jip karena ban sebelah kanan keburu terselip diapit kayu. Sambil terus memotret saya lekat mengamati tehnik dan mimik muka si offroader yang sedang mengolah stir, kopling, winch dan mencari traksi itu, Dengan kondisi jembatan yang hanya selebar mobil dan kayunya tidak terikat kuat, ditambah lagi “kesabaran” Bro Marzon yang mulai menipis itu, saya tak yakin ia bisa menggiring jip melintasi jembatan itu. Akhirnya semua jip pun berbalik arah, tidak semangat menyeberangi sungai dan kembali ke pantai lagi.
“ kita keluar lewat jalan masuk tadi aja lagi “ gagas Busmar pentolan BIOC, “ Oke Da, Brangkek “ Jawab Pak Wis, penggagas Jimmy Owner Club. Dan perjalanan pulangnya pun berlangsung lebih lama daripada sewaktu pergi sebelumnya tadi, lama menemani perbaikan jip BIOC yang patah per daun-nya. Offroad adalah salah satu hobby yang bisa meningkatkan kesadaran pentingnya kelestarian lingkungan hidup., dan kini Departemen Kehutanan melabelkan Indonesia Offroad Federation [ IOF ] sebagai sebuah organisasi otomotif rekreasi. Organisasi otomotif rekreasi ? Yak, kami akan terus berekreasi, menikmati sisa alam Indonesia yang dirusak kaki tangan kapitalis dan neoliberalisme ini.
STQ

“ Tengok lah ni STQ tingkat Propinsi dibikin di Dabo,kenape tak di Daek. Kan kalau kite kaji jauh nampak bahwe ibukote Lingga ini memang cocok di Dabo, sebab sarana yang menunjangnye sudah tersedie di Dabo ni.” Rupanya penetapan ibukota Lingga di Daik masih menjadi duri didalam daging
Mubazir, itulah kata yang paling sering terdengar dari mulut puluhan orang saat ditanyai pendapatnya tentang penyelenggaraan STQ ke 3 Provinsi Kepri di Dabo beberapa waktu yang lalu. Seorang pengojek yang sering mangkal di sebuah perempatan tak jauh dari arena STQ di lapangan Merdeka Dabo berkata “Duit 15 Milyar untuk STQ ini dicekau dari mane ye? Kalau cekaunye dari APBD Lingga mantaplah, berarti Lingga tak termasuk kabupaten miskin lagi lah, bisa buang duit 15 milyar untuk STQ”. Di pelabuhan Dabo seorang bapak sedang menarik jaringnya yang ditagan sejak air laut laut bergerak pasang, senja itu tak banyak tangkapannya tapi cukuplah buat belanja esok, ketika ditanyai pendapatnya tentang STQ itu yang keluar dari mulutnya pun tak jauh beda dengan tukang ojek di perempatan tadi, “Mubazirlah…kenape tak dibikin di Daik je STQ ni, kan ibu kota Lingga disane? Mungkin mobil disane kurang banyak, penginapan disane tak cukup buat menampung ribuan tamu ini tak ye?”, Tak lama kemudian datang lagi dua lelaki paruh baya dengan sepeda motor dan berhenti didekat kami, salah seorang dari mereka meminta ikan parang buat umpan mancing dengan si penjaring tadi kemudian ia pun melempar tali pancing, sambil memancing ia pun tak mau hanya menjadi pendengar perbualan saya dan penjaring itu, “ Tengok lah ni STQ tingkat Propinsi dibikin di Dabo, kenpae tak di Daek kan kalau kite kaji jauh nampak bahwe ibukote Lingga ini memang cocok di Dabo, sebab sarana yang menunjangnye sudah tersedie di Dabo ni.” Demikian pula ujar si pemancing itu. Ternyata masalah penetapan ibukota lingga di Daik masih menjadi duri didalam daging rupanya pikir saya dalam hati.
Senja pun berganti malam, ribuan orang tumpah di Arena STQ, bintang sinetron Cinta Fitri sedang bernyanyi di panggung astaka, Kepri Times berdiri di bagian tengah depan astaka, konser ini enaknya dinikmati dari tengah, biar seimbang kedua telinga ini mendengar alunan sound system line array yang gagah berdiri mengapit astaka itu, sayang sesekali terdengar olah vocal Shiren yang “lari’, sambil melantunkan ia pun berkode ke band pengiring di panggung rendah sebelah kanannya, ketahuan ia tidak bisa memonitor irama lagu dari tempat ia berdiri, tapi itu tidak pentinglah, penonton tetap bersorak gembira idolanya tampil live didepan mata sambil mengabadikan momen langka itu lewat kamera ponsel mereka, Kepri Times pun tak mau ketinggalan, maju ke bibir panggung, ikut larut dalam euphoria STQ bersama puluhan photographer yang sibuk mencari angle memotret Shiren.
Tak lama Opick pun tampil ke muka panggung, sorakan penonton lebih kuat dari ketika Shiren tampil sebelumnya, Opick lah bintang STQ malam itu, lagu Tombo Ati menggema dihantarkan oleh tata suara puluhan ribu watt , semua bernyanyi bersama Opick, Kepri Times berhenti memotret sambil duduk memandang Opick yang berdiri tepat didepan mata diatas astaka yang megah dibawahi lembutnya cahaya rembulan…Tombo Ati ada lima perkara….akh…syahdunya malam itu, menetes air mata ini mendengarkan lagu itu, betul – betul “kering” jiwa ini, Tuhan…. Jangan kemana-mana, aku akan kembali setelah yang satu ini.
Sehabis konser Opick malam tadi Kepri Times menumpang tidur di Rida Education Center, ada kawan yang sudi menawarkan lapak melelap disana. malas hendak meminta fasilitas penginapan kepada panitia yang sibuk leguh legah itu, sejak tiba di hari pertama lalu tampak kalau tidak semua wartawan diperlakukan sama oleh panitia, tapi tak menjadi kendalalah itu, mungkin terlupakan saja oleh mereka karena sibuk mengemas kegiatan panjang itu, dan juga jurnalis Kepri Times sejatinya siap ditempatkan untuk peliputan dalam kondisi terburuk, bahkan meliput perang sekalipun.
Setelah melihat-lihat koleksi Taman Bacaan Masyarakat Pustaka Rida, Kepri Times pun bergegas pagi itu untuk melihat pawai Taaruf STQ ke 3 Provinsi Kepri, jalan- jalan di kota Dabo dipenuhi puluhan ribu orang, penuh sesak dengan orang – orang berbaju kurung, kabupaten Lingga mengerahkan lebih kurang sebelas ribu orang dalam pawai taaruf ini, 7555 orang diantaranya untuk menabuh kompang demi memecahakan rekor MURI. Rencana panitia menghadirkan atraksi pesawat terbang betulan untuk membawa spanduk STQ berkeliling diatas udara Dabo digantikan dengan pesawat aero modeling.
Salah satu yang khas dari parade Kabupaten Lingga dalam pawai Taaruf pagi itu adalah penampilan ibu – ibu dari LAM Kab,Lingga, dengan kostum baju kurung hitam, songket hitam dan tudong manto, sebuah pemandangan yang sangat jarang dijumpai di Kepri ini, demikian ujar seorang peserta pawai dari Tanjung Pinang. Jelang satu jam pawai taaruf berlangsung tampak beberapa kali ambulance hilir mudik, ada peserta yang kelelahan dan pingsan karena panasnya mentari jelang siang itu. Malam harinya disaat pembukaan STQ Gubernur Kepri Ismeth Abdullah menyampaikan pidato sambutannya, yang tak ketinggalan ditutup dengan pantun dan tepuk tangan, hanya saja tak terdengar gemuruh tepuk tangan dari masyarakat yang hadir di sekitar arena STQ.
Antusias masyarakat menyaksikan perhelatan STQ ke 3 Kepri di Dabo ini pun tampaknya hanya pada saat – saat tertenetu saja, seperti ketika penampilan Opick dan Shireen Sungkar, Pawai Taaruf, Malam Pembukaan dan Penutupan, namun saat seleksi dimana para qariah melafazkan al quran yang merupakan inti dari STQ ini tidak seantusias seperti pada acara- acara seremonial sebelumnya. Pada hari kedua STQ Rabu (6/5) siang harinya saat seleksi berlangsung arena STQ pun sepi, hanya Wagub Kepri M.Sani dan Bupati Lingga H. Daria pejabat menyaksikan seleksi.Masyarakat lebih banyak di Pasar rakyat dan bazaar.
Keesokan harinya saya berkendara ke pelosok – pelosok Dabo, lantaran di waktu hari pertama tiba sudah melihat Kuala Raya sampai ke Tinjul maka hari itu city sightseeing nya kearah lain pula, etape pertama arah Dabo – Sedamai- Lanjut, sepanjang jalan terlihat hamparan pesisir Dabo yang bikin sejuk mata memandang itu, pantai dan pepohonannya ditambah sisa-sisa rumah – rumah panggung atap limasnya membuat perjalanan itu serasa di tempo dulu, sayang tour kecil indah itu sesekali terganggu dengan pemandangan rumah- rumah tak layak huni dikiri kanannya, rumah itu seakan berbalik 180 derajat dengan megahnya astaka STQ di Lapangan Merdeka sana. Setibanya di Lanjut saya pun melihat tempat penyalaian ikan Tamban milik Bang Apung, selama STQ ini hampir sepuluh ribu ekor sudah tamban salainya terjual, sejuk hati mendengarnya, tak sia – sia juga belasan milyar rupiah digelontorkan buat STQ ini, merasakan juga Bang Apung ini tempias dari perhelatan akbar itu, telah sebelas tahun ia menjadikan tamban salai sebagai usahanya, terbangunlah sebuah rumah beton sederhana dari hasil dagangannya itu, sejak pemerintah menggratiskan biaya sekolah ringan jugalah beban yang harus dipikulnya, sekarang setelah usaha tamban salainya dipasarkan sampai ke Tanjung Balai Karimun dan Batam ia ingin bisa lebih besar lagi, kepada Kepri Times ia berpesan agar diberitakan tentang usaha tamban salainya itu, mohon ditulis juga bahwa ia belum pernah dibantu pinjaman modal sedikit pun oleh pemerintah, kepada para stake holder yang berwenang mengembangkan usaha kecil menengah dan membaca tulisan ini tolonglah dibantu saudara kita ini, tamban salainya itu adalah komoditas , hanya tinggal memoles packaging dan pemasarannya saja maka bukan hanya Bang Apun yang akan terbantu, satu desa bisa terbantu dari situ.
Sepulang dari kampung Lanjut Kepri Times bergerak lagi menyusuri jalan di pesisir Dabo , mulai dari pantai Batu Bedaun sampai ke Kebun Nyiur, disebuah warung pinggir jalan Kepri Times berhenti untuk minum sebentar, lantaran saya menenteng kamera dan memakai kaos bertuliskan Journalist On Duty sebagian warga Kebun Nyiur yang ada di warung itu langsung paham kalau saya adalah wartawan “ dari media mane dek ?” Tanya bapak yang duduk disebelah saya. “ Kepri Times, pak “ saya menjawab “ Tak pernah dengar pon,” sela si bapak . “ Koran kami cume beredar 110 ekspemlar di Lingga ni pak, makenye bapak tak pernah dengar” “ Oohh gitu “.
Dalam bincang-bincang kami petang itu bertanyalah saya pada seorang lelaki lainnya yang duduk diatas sepeda motor didepan warung itu “ Sejak dah jadi kabupaten nih, ape yang terase bang? pancing saya “ Makin sakit je lah bang, mrenyeh lah”. “ ngape pulak gitu bang?” Tanya saya lagi “ nebang kayu tak boleh, somel ( sawmill.red) tak de lagi, ngarapkan laut same mecah batu je lah lagi kami ni, tak de lapangan kerje lagi lah” “ batu yang buat bahan bangunan tu ye bang, dijual berape tuh” Tanya saya penasaran “ seribu lima ratus satu blet” jawab si abang. Saya diam sejenak menganalisa, “blet” adalah istilah orang melayu sini untuk kaleng minyak goreng 20 literan berbentuk persegi atau jerrycan. Berarti untuk satu kaleng 20 literan batu dihargai seribu lima ratus rupiah, Anjrit, buat ongkos beli balsem karena melelasnya tangan memukul batu dengan godam dan pegalnya duduk saja tidak cukup dengan seribu lima ratus.
Batam bertahan sebagai juara Umum di STQ ke 3 Provinsi Kepri, tak heran memang melihatnya mengingat pembinaan yang dilakukan terhadap para qoriah dan qori nya bukanlah asal latih, disamping latar belakang kehidupan Walikotanya yang tumbuh di Batu Besar Batam dalam suasana kampong melayu tua yang dahulunya sangat erat dengan tradisi islam, dan sempat ngampus di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya saat penutupan STQ pun berlangsung meriah, meriah di Arena STQ meriah juga di Pasar Rakyat dan bazaar, karena malam terakhir maka daganngan pun diobral murah. Seremonial penutupan STQ terasa khidmat ketika ayat – ayat suci al quran dilantunkan dengan indah dan syahdunya oleh seorang qori cilik utusan Batam, Mukhlis Syahputra. Merinding bulu roma mendengarnya. Selesai sudah acara serah terima piala STQ dan pemberian dana santunan untuk kalangan kurang mampu oleh Bupati Lingga, seorang kawan jurnalis berbisik pada saya “ jelang pilkada semua sibuk siram – siram …,enak jadi kepala daerah ni e, saban hari image building tak habis-habisnya”. “ Sudahlah bang, ade mate pandang, ade telinge dengar, ade mulut diam, ade media, TULIS.” Jawab aku.
Kembang api bersaut-sautan pecah menghiasi angkasa diatas astaka menutup STQ ke 3 Kepri.Selesai sudah semuanya, Sampai Jumpa di STQ ke 4 Kepri, Visit Batam 2010, Experience it.
Versus

(breaking bad habit with better perception of truth)
ditulis oleh Jakobus “mutha” Rizon
Fashion VERSUS Lifestyle
Apa beda fashion dengan life style? Bukankah fashion merupakan bagian dari lifestyle? Ya, tapi mungkin kurang tepat. Dari terjemahan referensi umum, fashion adalah tren yang sedang popular terutama dalam kebiasaan. Sedangkan lifestyle cara hidup seseorang atau kelompok.
Fashion itu mungkin contohnya berdandan dengan mode paling popular, mengkonsumsi frozen yogurt karena sedang “in” di Indonesia, mulai ikut fitness/ yoga/ pilates karena sedang “happening”, mulai melirik jazz sebagai musik sehari2 karena jazz terkesan sangat classy, dan menurut saya yang paling parah: mengganti semua merek mp3 player dan handphone dengan sebutan mp3 player dengan inisial “ip” dan handphone dengan inisial “bb”, alasan utamanya adalah fashion! CRAPPPP *&$#@%^!
What happen with lifestyle? Menurut saya pribadi lifestyle adalah satu personifikasi dari keputusan untuk dijalankan setiap hari tanpa menghiraukan fashion. Tetap dandan ala Billy Corgan nya Smashing Pumpkins meskipun katanya ROCK IS DEAD? Tetap makan daging waktu semua orang mendadak nyaris jadi vegetarian. Atau berhenti merokok atas kesadaran pribadi, bukan karena campaign/ iklan bertubi2. Atau berniat untuk menjaga makan dan istirahat untuk pola hidup sehat. Atau mengubah cara bicara agar semakin berkarakter dan berwibawa? Hahaha..
Semoga keliatan beda diantara keduanya. Bukannya bermaksud menggolongkan semua yang fashion adalah negatif dan lifestyle itu bagaimanapun adalah positif. Tidak sesempit itu. Namun waktu kita berkiblat pada fashion tanpa menentukan satu lifestyle yang paling cocok dengan kepribadian kita dan kebaikan lingkungan sekitar kita? Bukankah kita akan menjadi orang yang childish dan akan cenderung egois nantinya? Akankah kita akan menjadi korban mode?
Pilah pilih, cari cari, ulak ulik lah, tentukan mana fashion yang akan sesuai dengan prinsip yang kita anut dalam lifestyle sehari2. “Buat diri sendiri kok coba2?”. Lifestyle kita akan mungkin akan menjadi panutan orang2 disekitar kita, dan lifestyle kita akan pasti menjadi cerminan budaya bangsa.
Be comfortable with the fashion you choose for your daily lifestyle!
Cowok bispak VERSUS cewek bispak
Di artikel ini akan terdapat banyak tanda kutip, menandakan satu istilah yang digantikan dengan istilah lain, dan saya berharap dengan istilah lain yang kurang vulgar, makna dan pesan tetap bisa nyambung.
Bispak (bisa pakai) merupakan salah satu terminologi paling negatif yang ada di indonesia. Istilahnya mungkin terdengar lucu buat para cowok pecundang dan terkesan kasar buat para cewek yang bermoral tinggi.
Tapi seorang jenius seperti djenar maesa ayu (yang ternyata aslinya seksi banget!), berfikir sangat tidak fair jika hanya cewek yang disebut bispak. Menurut mbak djenar, cowok juga bisa disebut bispak.
Dari perspektif yang saya punya super fair kan kalo para lelembut/ para cewek ikut menyimpulkan jika cowok2 juga bisa disebut bispak? Apa mentang2 para cowok ini yang “memberi” dan para cewek yang “menerima” sehingga jika ada cowok yang “berhasil memberi” kesatu cewek lalu cowok itu punya satu kebanggaan tersendiri? “mission accomplished” kah?
Para cowok dengan gampang nya bersembunyi tanpa bekas, sedangkan para cewek tiba2 harus menahan malu, apalagi kalo sampai mual2 dan perutnya mblendung. Wah “tak gendong” kemana2 tuh perutnya hahaha..
Degradasi moral buat para cowok (dan sebagian para cewek) disebabkan kurangnya penghargaan akan seks. Seks yang diciptakan tuhan mulia untuk pasangan yang sah, dilakukan atas dasar cinta, komitmen dan rasa percaya. Sedangkan jaman sekarang orang lebih senang mempraktekan apa yang ada di pornografi, seni seks yang tidak biasa, dan menganggap itu lucu, keren atau “nikmat”.
Ironis sekali melihat maraknya pornografi di internet dengan judul yang sangat “praktis” seperti kehidupan sehari2 kita. Hal ini membuat para pemirsa setia pornografi mulai berandai2 dan menganggap semua orang bispak dan bisa bersikap seperti adegan penuh rekayasa di pornografi!
Contoh konyol lain adalah waktu sasha grey, seorang bintang hardcore porn dalam wawancara nya di majalah rolling stone yang saya baca beberapa waktu lalu dengan bangganya mengklaim bahwa “saya ingin bilang kepada para cewek di generasi saya bahwa menjadi pelacur itu baik2 saja”. Wah siapa juga yang mau pacaran atau mempersunting pelacur? Go screw yourself sahsa grey!
What a pity? Ini pilihan kita untuk menyikapi pornografi, saya sendiri ikut berpendapat bahwa uu pornography is limp, suck, and stupid. Tapi akan kurang tepat jika kita mensetarakan seks sejajar dengan pornografi. Akan sangat salah bahkan jika kita menganggap para cewek adalah makhluk lemah tak berdaya karena bispak. Cowok cowok juga merupakan para pecundang tanpa guna jika mereka ternyata bispak, gampangan tanpa melihat pasangan, tanpa melihat status, tanpa melihat komitmen dalam seks.
Grow up – be responsible.
Dependent VERSUS Independent
Banyak hal yang seharusnya memerdekakan hak asasi kita, malah justru membatasi kebebasan kita dalam membuat keputusan dalam kehidupan. Hal ini berkaitan erat dengan seberapa kuatnya karakter seseorang, apakah cukup independent dalam berfikir dan bersikap, atau masih selalu bergantung pada penilaian orang lain, bergantung pada dukungan orang lain, bergantung pada fasilitas yang orang lain punya?
Haruskah kita bangga akan kesuksesan, harta, jabatan, predikat yang diwariskan? Haruskah kita selalu berada di bawah bayang2 orang tua, atau boss atau role model kita? Rasa2 nya dependent hanya cocok untuk anak tanpa kepribadian yang selalu bisa mendapatkan sesuatu dengan mudah. Sevendust punya lagu yang cocok buat golongan ini, dalam lagu T.O.A.B, kutipan liriknya adalah “a motherf**ker without a life that always getting something”.
Banyak orang yang terkekang di hal2 yang mungkin positif, namun belum tentu positif juga pada akhirnya. Contohnya: jika kita tidak memiliki kebebasan dalam memilih jurusan dalam kuliah, memilih komunitas, memilih kota untuk tinggal, memilih jenis pekerjaan/ karier, sampai kebebasan dalam beragama. Jika itu semua hanya warisan: jabatan disatu perusahaan hanya warisan karena orang tuanya adalah direktur, agama adalah warisan karena orang tuanya adalah pemuka agama, maka dimana arti kebebasan dan ketulusan dalam bekerja, meneruskan hidup, juga ketulusan dalam menentukan Tuhan yang kita sembah? Apa kita harus selalu menganggap baik nilai2 “kemanusiaan” dan mengabaikan nurani/ idealisme dan suara Tuhan? Menjadi realistis sangat perlu, tapi melupakan idealisme yang sejati, I don’t think it’s a good idea.
Inilah akar masalah; kenapa tali korupsi tidak putus? Karena system kerja diwariskan, tidak ada independensi untuk mendobrak tatanan dan mendobrak tradisi2 konyol dalam organisasi. Kenapa pemuka agama ada yang munafik? Apa mungkin karena di wariskan juga agama dan prinsip ketuhanannya? Sehingga jadi tidak murni lagi atas dasar pilihan pribadi dalam menjalankan ajaran Ketuhanan, bukan ajaran agama. Mungkin agama sudah penuh dengan politik dan birokrasi?
Kita harus mendobrak system konyol ini dengan menjadi independent: mengandalkan talenta, kesempatan, dan semangat/ passion yang Tuhan sediakan. Bukan yang disediakan/ diberikan orang semata. Orang mungkin punya talenta dan kesempatan yang luar biasa, tapi tanpa semangat/ passion, mustahil sepertinya untuk mencapai mimpi. Sementara orang lain dengan semangat tinggi, sedikit pengalaman, sedikit ilmu, bahkan tanpa fasilitas bisa jadi pemimpin2 masa depan. Merekalah penguasa dan pemimpin sejati.
Jika kita yakin pada kemampuan kita, jangan takut bermimpi. Jika kita yakin pada mimpi kita, jangan malas meng-uprgade kemampuan! Jangan bergantung lagi pada hal2 klise, be tough and depend on your-own-God only!
Indentitas VERSUS Komunitas
Sering kita jumpai di lingkungan kita, di sekolah atau tempat nongkrong misalnya; anak-anak menggunakan bahasa yang sama/ lingo* (*lingo: istilah yang diciptakan dan digunakan hanya oleh komunitas tertentu), fashion yang sama, bahkan cara bersikap dan cara berfikir yang sama.
Beberapa kelihatan keren, yang lain kelihatan agak menjijikan. Why? Karena di lingkup komunitas itulah yang mempunyai pengertian akan penilaian baik dan kurang baik atas apa yang mereka anut. Kita dari komunitas yang lain belum tentu memahami persepsi yang mereka bangun lewat hubungan dan komunikasi selama beberapa waktu.
Namun coba kita telaah lebih dalam. Apakah jati diri/ identitas yang mereka secara pribadi punya? Atau hanya sekedar ikut arus? Berada dalam satu komunitas dan mencoba untuk menjadi “sama” hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian dan penerimaan?
Banyak youth/ anak muda, merasa kurang percaya diri dan terlalu memikirkan apa kata orang lain. Bisa dimaklumi karena di usia dini, mental masih labil. Belum lagi dukungan dan perhatian orang tua yang terbatas, membuat kurangnya ke-pede-an dari anak itu. Hal ini yang membentuk kurangnya jati diri, selalu ikut arus: lagi musim musik apa akan ngikut musik apa, lagi musim fashion akan ngikut mode itu, lagi musim kata-kata apa akan ikut juga, atau lagi musim ngomongin “miyabi” misalnya, gak mau ketinggalan harus ikut tau supaya ga dibilang kuper atau kurang gaul.
What the heck, man? Haruskah kita ikut arus? Pantas saja di Indonesia semua jadi kehilangan jati diri, seolah kita harus tunduk pada system yang sudah ada dan lama berjalan. Kita menggantungkan kepribadian kita akan penerimaan orang. Bukan lagi kepada satu Ketuhanan, atau budaya. Musik Indonesia contohnya: semua lagunya mirip (atau malah cenderung plagiat), fashion dari band2nya mirip, aksi panggungnya sama. Skill, idealisme, kecerdasaan dan penemuan bermusik sudah jarang kita temui. Jadi bagaimana ada pemusik masa depan yang luar biasa seperti STING, KURT COBAIN, BJORK, DREAM THEATER, LADY GAGA yang pure orisinil karya anak bangsa? Wong semua aja ngejiplak, mana mungkin jadi barometer
Itu baru soal musik dan mungkin sedikit tentang fashion. Akankah kita menjadi sama dengan dunia, tanpa membuat dobrakan akan persepsi orang awam? Akankah kita anak muda menjadi dewasa dan berfikir visioner dengan tidak memperdulikan omongan orang lain? Tidak perduli akan penilaian baik dan buruk yang sangat klise? Akankah kita menjadi figur yang lebih baik dan bisa menjadi contoh bagi komunitas kita?
Think straight! Make your own style, set a new standard of living!
Dago

Dago, tak dapat dipungkiri merupakan salah satu icon kota Bandung, sejarah panjang Dago merupakan bagian yang menarik dari keberadaan Bandung, dimulai dari jalan setapak yang digunakan petani sebagai jalan dari lembang, coblong ke pasar di kawasan pusat kota kala itu (abad 18an), para petani yang hendak menjual hasil pertanian dan perkebunan selalu pergi bersama-sama , karena alasan keamanan, konon pada masa itu jalan menuju pasar di kota Bandung masih dikuasai para penyamun atau perampok, sehingga para petani tersebut sering “silih dagoan”(bahasa sunda : saling menunggu) di suatu tempat di kawasan Dago saat itu. Perkembangan selanjutnya kawasan Dago berubah jadi kawasan villa, yang penataan ruangnya nyaris sempurna, arsitek bangunannya pun banyak dirancang oleh arsitek terkenal pada masanya. Karya kelompok arsitek Hindia Belanda NIAK (Nederland Indie Arsitecture Krink) antara lain, Mclaine Pont, Schoemaker bersaudara, Gheijsels, Albers, lalu kita mengenal Art Deco, Straightline Deco, Nautical Deco,Art Nouveau, dan jadilah kawasan Dago sebagai kawasan villa yang nyaman dan elite di Bandung pada saat itu. Perubahan demi perubahan terus terjadi di kawasan Dago, setiap dekade selalu membawa cerita yang menarik.
Prof.dr.Koestedjo SpB (94 tahun), seorang warga senior di Jl.Dago, beliau tinggal sejak tahun 50an di Jl.Dago, pada saat kesempatan di awal tahun 2009, beliau menceritakan “romantisme” masa-masa indah tinggal dikawasan tersebut.
“Kawasan Dago di tata dengan apik, sehingga merupakan daerah hunian paling nyaman di Bandung, jalannya lebar di kiri kanan tersebut dibuat trotoar yang ditumbuhi pohon damar sehingga membuat nyaman pejalan kaki, rumah-rumah tanpa pagar, halaman yang luas, jaln khusus untuk pengendara sepeda dan infrastruktur yang baik”. Kemudia beliau mengatakan, bangunan tempat tinggal sering disebut dengan Open Westersebouw (ruang terbuka mencapai 70% dari lahan tersedia). Pada akhir pembicaraan beliau katakan dengan berbinar “indah san sangat nyaman”. “Sekarang tetangga-tetangga saya adalah factory outlet, bank, restoran, rumah-rumah yang tersisa pun kini berpagar tinggi” (tercatat tiada kurang dari 18 factory outlet dan sejenisnya, 13 bank, 9 hotel, lebih dari 10 kafe/restoran, 3 perusahaan asuransi, lebih dari 10 kegiatan usaha lainnya seperti toko swalayan, mall, money changer, broker valassampai dengan lembaga pendidikan), kemacetan menjadi santapan setiap hari, sangat tidak nyaman untuk pemukiman, sudah lebih dari 50 tahun Prof.dr.Koestedjo tinggal di jalan Dago, beliau mengatakan “saya ingin menghabiskan sisa usia saya tetap menjadi warga Dago”.
Cerita tentang jalan Dago seakan tak lekang oleh waktu, dari generasi ke generasi selalu punya cerita tentang jalan ini, tulisan ini coba memotret situasi Dago saat ini dengan segala problematikanya.
Sejak berdirinya tahun 1898, sampai kota Bandung mendapat statusGemeente (kota madya) pada tahun 1906 mulailah Bandung membangun layaknya sebagai sebuah kota besar, pembangunan jalur jalan dalam kota bertambah dan dikembangkan, fasilitas umum terus berkembang, gedung-gedung pertokoan , pemerintah, pendidikan, lembaga-lembaga sosial terus dibangun era awal 20an sampai 1940-an, tentunya dengan arsitektur yang khas, (sebagai contoh : RS. Borromeus di bangun tahun 1921, ITB tahun 1920) kemudian Bandung mendapat predikat Laboratorium Arsitektur (Her Suganda, Kompas), Bandung masuk urutan ke 9 Cities of Art Deco in the World. Berkembangnya Bandung sebagai sebuah kota besar didukng okeh pemasangan rel kereta api pada tahun 1884 yang menghubungkan Batavia dan bandung. Semakin banyaknya kegiatan pemerintah Hindia Belanda di Bandung telah melahirkan kawasan pemukiman elite atau sering disebut dengan kawasan villa di DagoStraat atau jalan Dago. Sejak tahun 1970 diganti namanya menjadi Jl.Ir.H.Juanda, selain itu dikenal juga kawasan sayap Dago yang kini juga mulai berubah fungsi menjadi pusat perniagaan.
Jaringan jalan dalam kawasan ini (sayap Dago) antara lain :
Jalan Ir.H.Juanda (Dagostraat)
Jalan Raden Patah (Pahud de mortagneslaan)
Jalan Sumur Bandung (Van Hoytemaweg)
Jalan Teuku Umar (Zorgvlietklaan)
Jalan Taman Sari (Huysgenweg)
Jalna kiai Luhur (Van Ostadelaan)
Jalan Pager Gunung (Jan Steenlaan)
Jalan Surya Kencana (Borromeuslaan)
Jalan Imam Bonjol (Peltzerlaan)
Jalan Ganesha (huygensweg)
Jalan Tirtayasa (Frisiastrat)
Jalan Sultan Agung (Heetjanweg)
Dan jalan-jalan lainnya.
Tipe bangunan yang selalu ada dengan karakteristik villa yang mengacu pada arsitektur modernisme Eropa tahun 1920 dan 1930an, kemudian seiring dengan perkembangan jaman, kawasan ini beubah pesat menjadi kawasan niaga seperti yang kita lihat saat ini, dan tentunya membawa dampak pada bangunan-bangunan bernilai arsitektur tinggi (versi Bandung Heritage), dampaknya adalah bangunan itu harus beralih fungsi, dan yang memprihatinkan adalah hilangnya bangunan-bangunan yang merupakan heritage kota Bandung. Kini kita tidak dapat bicara lagiBuilding Coverage Ratio 70 : 30 (70% lahan terbuka) seperti pada jaman kolonial dahulu, lihatlah lahan yang dijadikan tempat parkir factory outlet, atau yang luar biasa lihatlah POM bensin milik Petronas di Jl. Dago.
Dago dapat diidentifikasikan dengan pusat anak muda mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya baik secara perorangan ataupun komunitas (kelompok), mengapa harus di Dago? Apakah memang warga Bandung tidak mempunyai ruang publik selain Dago? Atau Dago telah menjadi bagian dari tren gaya hidup anak muda Bandung.
Pada tahun 1950 sampai dengan 1970an kawasan Dago masih merupakan kawasan pemukiman elite dan berkelas selain itu suasana asri dan nyaman. Pada era tahun 1970 sampai 1980an dago mulai menjadi tempat anak muda berkumpul. Jalan yang lurus (panjang jalan Dago sekitar 2,5 km) sering dijadikan arena balapan motor dan mobil, atau menjadi jalan wajib konvoi klub kendaraan bermotor pada saat itu, biasanya keramaian saat itu hanya terjadi pada sabtu malam, hari biasa tidak terjadi kemacetan di jalan Dago seperti sekarang ini.
Pada era 1990an sampai dengan sekarang telah terjadi perubahan besar dikawasan Dago, yang merupakan bagian dari permasalahan Pemkot Bandung. Salah satu permasalahan adalah berkembangnya penyalahgunaan fungsi dari bangunan yang ada akhirnya berdampak pada pelestarian bangunan konservasi yang berada di kota Bandung terutama sepanjang jalan Dago. Kemacetan yang luar biasa pada saatlong weekend , carut marutnya billboard, tidak berfungsinya infrastruktur karena pelanggaran tata ruang kawasan dago. Maraknya tren factory outlet secara perlahan tapi pasti membuat kawasan Dago menjadi sasaran para investor untuk mendirikan factory outlet, distro, restoran, hotel, bank, POM bensin dengan mengabaikan aturan rencana tata ruang kota serta ada pula beberapa bangunan yang terdaftar dalam kategori bangunan cagar budaya yang dikorbankan hanya untuk kepentingan komersial semata (contoh : bangunan jalan Dago nomor 118, tepat dipertigaan jalan Teuku Umar merupakan bangunan bergayaArt deco dengan arsiteknya Prof.Ir.C.P Wolff Schoemaker, masuk dalam list yang dilindungi versi Bandung Heritage).
Setiap malam minggu pada saat ini kawasan Dago masih menjadi destinasi anak muda selain untuk menunjukkan eksistensinya juga menghadirkan kegiatan-kegiatan kreatif yang meramaikan kawasan Dago menjadi sebuah bagian gaya hidup anak muda Bandung, seperti pertunjukkan musik yang meriah dibeberapa titik kawasan Dago, komunitas-komunitas motor (klub motor) memarkir motornya dengan rapih sehingga nampak estetis, komunitas under ground dengan aksesorisnya yang unik tampak berkumpul di sekitar taman Fleksi dan sudut-sudut toko Circle K, terlepas dari pandangan negatif dari sebagian wakga kota terhadap mereka. Bahwa mereka juga adalah warga bandung dan mempunyai hak mengisi ruang-ruang di kawasan Dago.
Di sekitar taman cikapayang, komunitas BMX dan komunitas Skate Boarder berkumpul sambil sesekali menunjukkan aksinya, ada pula mahasiswa-mahasiswa (nampaknya dari kalangan berkecukupan dan mapan) yang ngamen bergerombol asal jadi dan asal bunyi meminta bayaran pada pengendara mobil yang terjebak macet (kreatif kah?), dan ini menggeser para pengamen jalanan yang benar-benar mencari uang untuk makan. Radio bus station menyiarkan keadaan jalan Dago sehingga mengundang emosi rasa penasaran anak muda untuk sekedar melintasi kawasan Dago yang macet. Sementara parkiran factory outletpenuh dengan mobil dengan plat nomor B, seakan tak puas-puasnya berbelanja baju setiap minggu.
Daya tarik kawasan Dago memang tidak pernah luntur, hal ini dibuktikan dengan diadakannya tiga tahun berturut-turut Festival Dago yang menjadi lautan manusia dikawasan Dago, dan kawasan Dago diusulkan menjadi titik kreatifitas kaula muda Bandung.
Perjalanan sejarah Dago belum berakhir entah sampai kapan, popularitas Dago seakan menjadi magnet bagi banyak orang untuk tetap datang dan kembali ke Dago. Perkembangan bisnis di Dago cenderung tidak terkendali, 80% lahan hunian kawasan ini telah mengalami perubahan peruntukan dari hunian ke komersial.
Perubahan ini pada akhirnya berdampak luas pada hunian ke komersial. Perubahaan ini pada akhirnya berdampak luas pada kawasan Dago itu pada keseluruhan, selain hilangnya lahan terbuka hijau, rawannya pembongkaran bangunan-bangunan heritage, kegiatan ekonomi yang terjadi dikawasan Dago ternyata tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai (contoh : kemacetan). Saat musim hujan saluran-salurandrainase di kawasan Dago tidak mampu lagi menampung limpahan air sehingga jalan Dago berubah menjadi sungai. Kawasan Dago yang selama ini dibanggakan sebagai icon Bandung yang cantik dan nyaman berubah menjadi kawasan Dago dimata anak-anak muda tetap menjadi tempat yang tepat untuk berekreasi, beraktifitas, dan mengaktualisasikan diri.
Banyak pemerhati kota (perorangan, LSM, Institusi Pendidikan) yang terus mendesak pemerintah kota Bandung agar melakukan pembenahan kawasan Dago dengan menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dago masih menjadi magnet walaupun pengelolaannya carut marut, apalagi jika di tata dengan lebih baik.
(Komunitas WEG adalah komunitas pemerhati kota yang terbentuk atas prakasa beberapa mahasiswa dan mempunyai anggota yang berasal dari berbagai multi disiplin seperti teknik industri, ekonomi, dll. Komunitas ini mencoba untuk mengkaji permasalahan kota melalui diskusi-diskusi lintas ilmu pengetahuan).
Pulau Buluh

Pernah kau dengar Pulau Buluh? Aku rasa tak semua, bahkan jika itu bukan karena tempat saksi kelahiran Ibuku, tempat neneku memulai sejarah panjang intrik keluarga dan tempat kakekku tahu definisi nafkahpun, mungkin telingaku masih asing mendengar kalimat itu. Keasingan itu tak hanya berhenti disitu, karena akan menjadi sangat asing jika konsonan “u” diakhir kalimat tersebut, diganti menjadi “o” oleh penduduk tempatan dengan logat melayu kental. Menjadi Pulo Buloh. Imajinasiku pun mungkin angkat tangan.
Dulu, jangankan membayangkan bentuk tempatnya, untuk mencoba memikirkan pun kurasa tak bergairah. Aneh rasanya, tapi paling tidak itu kataku. Semoga tidak untuk semua yang membaca ini. Bukan karena aku lahir dari pulau transit luar negeri itu, bukan juga karena aku bersekolah di “kota pinggiran ibukota”, dan bukan juga karena aku kuliah di “kota hampir ibu kota”, sehingga keanehan ini muncul. Mungkin lebih tepatnya “zaman telah berbeda”, begitu mak ku beri alasan.
Saat awal sebelum puasa lalu, baru ku rasakan aroma amis laut disekitaran pulau yang dulu pernah kusebut aneh itu, untuk pertama kalinya. Sebelumnya aku eggan, tapi beberapa rayuanpun menggoda hasratku. Tetap saja kubayangkan, entah ada apa disana, tapi rayuan maut di antrian belakang meluluh lantahkanku, nenekku membebaskan ke enggananku. Beliau mengatakan, “Mau tak kite lihat asal muasal nenek moyang kite semue, sekali ziarah, sekali silaturahmi dengan suadara, sekali edho ambek gamba”. “Ambek Gamba” Haa.. Alasan itu ampuh! Meluluh lantahkanku sehingga kepercayaan masa lampau itu hilang seketika, pudar dikalahkan hasrat mengambil gambar, walaupun di awali alasan-alasan yang sedikit susah diterima, alasan terkhir mampu membuatku bertekuk lutut dan segera menyiapkan apa segala sesuatunya untuk keberangkatan
Tak lama menyebranginya dari tempat kami, hanya 15 menit, melewati pemandangan lautan, kejar-kejaran sampan, gunung nan indah dan pulau di pinggiran yang dipenuhi kehijauan. Amis ini tak pernah kurasakan dimanapun. Amis, memang masuk dalam klasifikasi definisi yang menjijkkan, tak pantas dibawa ketika makan malam bersama keluarga, juga tak pantas ketika duduk santai makan prata, tapi silahkan saja, jika memang meminta ibunda merepet. Amis ini beda bukan amis ikan di pasar, bukan juga amis sotong di ujung dapur, amis ini memberikan sensasi berbeda, meninggikan gairah menjelajahi laut, dan memimpikan mengelilingi luas samudra. Amis ini kurasakan ketika diujung garis pantai mulai terlihat pulau itu, Amis laut asli, amis hasil dari cipratan dengan kayu perahu, seketika nenek berkata : “Itu dia pulaunya!”, selain intonasinya yang berbeda, kurasa ada enerji kuat yang mengalir dalam jiwa nenek. Kulihat rumah panggung di bibir pantai, cipratan ombak membasahi kayu-kayu fondasi rumah, hutan yang lebat di pinggir pulau menambah ke flamboyanan tempat itu, pemuda memancing menunggu matahari tepat di atasnya sehingga membakar kulitnya. Gairah itu muncul juga pada diriku dan kuyakin kepada seluruh anggota keluarga juga.
Nenek memang Wanita perkasa, tak perduli telah ditinggalkan kekasih hatinya, pria se-iya se-katanya yang berpuluh tahun menemaninya, ia masih kuat membuat gulai asam pedas, masih kuat mencuci gorden, masih kuat mengkritik berita di metro tv, tapi aku merasakan kekuatan yang berbeda ketika perahu di labuhkan ke pinggiran pulau ini, enerjinya begitu tinggi, gairah itu memuncak, entah apa yang di rasa, tapi sedikit banyak aku pun merasakan hal yang berbeda di pulau ini, dan aku yakin tak ada hubungannya dengan penurunan enerji dari ibunda karena beliau dilahirkan disini, aura ini objektif sangat menggairahkan, merelaksasikan mata melihat baja-baja bermacetan di lampu merah, melemaskan otot-otot badan yang harus terus berlari mengejar waktu, dan mengistirahatkan semua indra yang sudah lelah mencemooh polusi dan kekacauan metropolitan.
Kau tahu? Kami di sambut! Amboy, alangkah terperanjatnya kami, Bukan dengan kompang dan tari melayu, tak juga salam hangat keluarga dan sorak sorai penggemar, tapi lebih dari itu. Kami di sambut dengan suasana yang sepi! Sepi sekali. Kami sungguh terperanjat! Ini 17 Agustus, di seberang sana komandan sedang bertengking meneriakkan Sang Saka, mempertaruhkan posisinya untuk tahun berikutnya, tapi disini, angka 17 pada gerbangpun belum terelesaikan. Aku mengerutkan dahi, mencari jawaban atas pertanyaanku dalam otakku, tak kutemukan! Tapi gelombang kebingungan itu terpancarkan cepat kepada neneku, dengan cepat nenek mengatakan : “setelah pulau-pulau lain berkembang, pulau ini sedikit ditinggalkan, hanya orang daerah tempatan, beberapa pulang rantauan, dan tempat berziarah” itu mengapa Mak kate : “Zaman telah berbeda”. Tapi, mungkin ini yang membuat pulau ini terasa berbeda dari zaman ke zaman.
Aku masih memimpikan tempat itu, sampai malam ini, merasakan kembali aroma amis itu, melihat kembali rumah panggung dibibir pantai dan merasakan kembali keheningan pulau itu. Sungguh kurasa berbeda, sangat berbeda.
Ziarah

Sampai sore hari ini, sampai umurku hampir genap 20 tahun, tak pernah terbayangkan ini adalah bagian wajib beragama, tak juga juga terbayangkan ini adalah ritual yang jika di tinggalkan dapat membuat anak cucu sial, bukan juga amalan sunnah yang sebaiknya dikerjakan, yang karena rasul selalu menganjurkan. Sampai hari ini juga kami tidak dipaksa untuk mempertahankannya, hanya diajak dan dibagikan cerita tentangnya, mendeskripsikan cerita-cerita dibaliknya, dan tersirat arti tentang manfaatnya, sehingga terfikir dengan sendirinya bahwa ini baik untuk dilakukan, bermanfaat jika dikerjakan, dan sayang untung ditinggalkan, dan telingaku serta telingamu pasti takkan asing mendengarnya, ziarah. Ya, ziarahlah yang ku maksud.
Suasana lebaran masih membiasi kota ini, “kota pahlawan”, juga “kota tandus”, yang jika engkau tanyakan pada bunga-bunga segar nan indah, mereka akan mencucurkan air mata membanjiri kota, dan beribu keengganan disampaikan, ketika mereka dipaksa pindah ke kota ini. Terik dan panas sekali kota ini, jarang kulihat pepohonan rindang membantu menjaga kulit kami dari teriknya matahari. Juga bisa kau sebut “kota keluh”, karena keluhan bisa keluar dari manapun, dari rumah kayu tanpa atap, rumah papan tak layak, hingga rumah beton ber econ bisa menyampaikan keluhan itu, bentuknyapun beragam, masih dalam bentuk gerutuan-gerutuan sederhana, celoteh-celoteh ringan dalam arisan dan pengajian ibu-ibu, wacana duduk santai depan rumah , hingga topik utama pertemuan bapak-bapak di kedai kopi, keluhannya ringan, tapi jika kita mengalaminya, memang menyakitkan dan memang tentu keluhan lah yang paling mudah di lontarkan, walaupun terasa melepas tanggung jawab, tapi itu jalan termudah meluapkan emosi sesaat, yaitu : “air yang tak kunjung hidup”. Kota ini baru beberapa tahun mulai sering disebut-sebut oleh masyarakat, walaupun secara sadar mereka belum tahu irama apa yang di sampaikan kota ini, genrenya masih samar-samar, tapi satu yang perlu diingat kawan, kota ini berdiri kokoh akan adat dan martabatnya, adab dan peradabannya, serta budaya dan sejarahnya. Ada sejarah panjang dibalik kota ini, coba kau teriakkan kota ini di depan para tetua Kepulauan Ria, merinding buluk kuduknya, bercucur air matanya, ingat akan terbantingnya tulang-tulang mereka untuk mempertahankan itu semua. Dan kami biasanya menyebutnya, Tanjung Pinang.
Macam tak ada kaitannya antara kalimat ziarah dengan kota tanjung pinang, terasa asing ditelinga jika dikaitkan, karena ziarah lebih cocok di kaitkan dengan kuburan terdekat tempat tok atau nenek disemayamkan, kuburan di kampung halaman tempat ayah dan ibu lahir untuk menziarahi sanak saudara, atau kuburan tempat para wali songo di jawa sana. Memang itu yang biasa diziarahi. Saya rasa, kawan-kawan pun tak jauh sama dengan pikiranku, rupanya beda dengan pikiran bapak ku, beliau punya fikiran yang sampai aku akhil baligh baru bisa memahaminya. Terasa aneh saat itu, tapi beliau selalu melakukkannya, sampai aku yang merasa bahwa ini baik untukku dan tentunya untuk pemuda tempatan, baik pemuda tempatan diperantauan, atau pemuda tempatan yang duduk menjaga adat dikota ini.
Perjalanan kami mulai dari Tanjung Unggat, karena disinilah makam terdekat, letaknya tak jauh dari pusat kota, walaupun terlihat sepi, tapi keadaanya terlihat bahwa makam ini masih tetap terawat seperti tahun lalu kukunjungi, sedikit berdebu, tapi masih ada bekas sapu mengitari sekelilingnya, tanda bahwa belum lama sebelum angin meniupi habis jejaknya masih ada kuncen yang menyapu makam ini. Tertengger nama besar di depan gerbang makam, Yang Dipertuan Muda Riau V (1784-1806), beliau pengganti Yang Dipertuan Muda Riau IV yang biasa kita kenal dengan Raja Haji Fisabilillah, layaknya berziarah, kami mengucapkan salam, membacakan surat-surat pendek, dan mendoakan beliau. Bagi beberapa kalangan, ritual ini terasa kontradiktif, ada yang tak senang, ada yang mengatakan bid’ah, bahkan ada yang menentang keras dengan perilaku-perilaku ini. Cacian, makian atau hanya sindiran sering ditemukan dalam literatur-literatur. Tapi kami yakin beribu yakin akan yang kami lakukan, kami tak pernah ikut-ikut dengan orang agar disebut alim, tak juga mempersempit pikiran kami dengan doktrin-doktrin ekstrimis yang lebih mempertahankan keyakinannya, sehingga terkadang melupakan adab dan kesopanan yang semestinya juga bagian dari tata cara beragama, bahkan agama Yahudi manapun Nasrani. Kami mendoakan, bukan berdoa kepadanya. Kami mendoakan beliau yang telah berusaha menyebarkan agama Islam, sehingga kami bisa mendapatkan petunjuk untuk turut serta dalam rangkaian agama kebenaran ini. Beliau-beliau tak hanya mempertahankan kerajaannya, beliau juga telah membantu kami menjaga adat dan adab, sehingga kami masih memiliki sesuatu yang mencirikan kami dengan perilaku kebebasan globalis dan liberalis, beliau juga mempertahankan agama, bahkan menyebarluaskan sehingga kakek kami, buyut kami bahkan para tetua di kota ini bisa mendapatkan ajaran Islam yang benar.
Kami terus melanjutkan ziarah, kembali mendoakannya, menyirami air dan menyebarkan bunga satu persatu, hingga bertolak ke Pulau Penyengat, hampir seluruh keturunan Sultan Riau dan Yang Dipertuan Muda Riau kami datangi, kecuali beberapa keturunannya yang karena memang makamnya tidak berada disekitaran Tanjung Pinang dan Pulau penyengat. Hingga kami akhiri di makam Raja Fisabilillah. Kembali kami doakan beliau dan kembali mengingatkan memori ku yang telah terekam dari beberapa tahun lalu, bahwa melalui Surat Keputusan Presiden beliau masuk dalam jajaran Pahlawan Indonesia. Ia terkenal dengan semangat dan kegigihannya dalam melawan Pemerintahan Belanda dan berhasil membangun pulai Biram Dewa di Sungai Riau Lama. Hingga akhirnya beliau gugur dalam melakukan penyerangan di pangkalan Maritim Belanda di Teluk ketapang (Malaka).
Sedikit membuyarkan konsentrasiku berdoaku, terlintas pikiranku dalam lelahku diperdirian dengan sengatan matahari, menundukkan heningan cipta pada Senin pagi di lapangan sekolah, mengapa hanya Soekarno, Wage Rudolf Soepratman, Ki Hajar Dewantara, atau Kartini yang melintasi heningan ciptaku? Padahal ada banyak pahlawan disekitar kita, yang juga berjuang untuk Negara dan Agama, memperjuangkan segalanya, meneteskan darah, bahkan mempertaruhkan nyawa. Entah karena penyusunan Kurikulum dan kemerdekaan di selenggarakan di Pulau Jawa, atau memang orang tempatan yang kurang mempublikasikan? Entahlah kawan, tapi jelas saja ini ‘PR’ buat kita, kaum muda tempatan, Sang harapan tetua untuk melanjutkan perjuangannya.
The Unblessed Story Of Aep Bujang Kesumau


Brahem dan Sarepdol bukan tipikal dua orang sahabat yang saling mendengarkan curhat, yang selalu ada saat sahabatnya sedang kesulitan, yang selalu kontak setiap saat, mereka sahabat yang selalu datang dan pergi, bersama sebentar untuk kemudian berpisah lagi. Yaapp..cerita tentang sahabat sejati aku rasa aku tak punya sahabat sejati selain musik. Yang aku punya hanya kawan – kawan sebaya, senasib, sepermainan, sekampong, seperjuangan, seselera, serocknroll, semimpi, segelas sepiring, sepelarian, separang, sebacok, sebagainya sebagainya. Seingat aku, dengan kawan – kawan Aku tak pernah berkhianat, kekasihlah yang menjadi objek pengkhianatan ku . Aku hidup di banyak peran, seluruh kisah hidupku hanya Tuhan dan Aku yang tahu sepenuhnya, tak pernah kubercerita selengkap-lengkapnya tentang aku pada satu manusia pun. Tak pernah. Karena rasanya pun hidupku ini tak begitu beda beda jauh dari kalian – kalian semua .
Kali ini aku mau bercerita tentang “petualangan” bersama ‘sahabat”ku Brahem. Sejak kenal di Jogja pada 2003 dulu baru kali inilah hasrat kami jalan – jalan bersama di kabupaten Lingga tercapai.
Pagi itu kami naik ojek dari Daek menuju Resun, ojek yang kami tumpangi melaju beriringan di jalan aspal yang tak pernah mulus itu, aku yang naik ojek dengan menenteng surfboard ternyata cukup menyita perhatian orang – orang di sepanjang perjalanan itu. Jalan yang tak asing bagiku, karena dijalan itulah aku menjalankan dua mimpiku, di tahun 2005 aku berangan andai bisa bikin offroad di Lingga, dan tahun di 2008 mimpi itu terwujud lewat Merdeka Offroad 2008 Jelajah Lingga Kepri, dan aku termasuk orang yang membidani terselenggaranya event itu. Di tahun 2002 saat pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Lingga aku berangan kapanlah bisa jalan – jalan melihat seluruh Kabupaten Lingga sambil bawa kamera memfilmkannya layaknya seorang video journalist , eeh di ujung tahun 2009 mimpi itu terwujud, 20 hari lebih aku keliling kabupaten Lingga dengan kamera video standard broadcast dan memfilmkan semuanya, dan sampai sekarang belum sempat merangkai gambar dan membuat narasi untuk footage – footage yang aku rekam sampai 12 kaset itu.DAMN!!
Saat melewati muka kampung Resun terdengar suara yang lagi – lagi tak asing ditelinga memanggil namaku dari sebuah beranda rumah di tepi jalan yang membelah kampung itu “ Ayeep, nak kemane ikak tuu, singgah dulu celake “ Teriak Ayak Tren . Aku tersenyum membalas teriakan Ayak Tren dari atas motor yang aku tumpangi, “Nak Ke Mensemut Pak Ayak “ Aku balas teriak sambil berlalu pergi. Ayak Tren banyak membantu aku sewaktu menggarap Merdeka offroad disini dulu, dia penebang kayu yang ulet, seorang “pemain lama “ pelarian dari Bangka yang memulai hidup di baru di Daek. Rasanya bersalah kali kalau teringat saat dia kami tuba dengan Absolute Vodka tanpa coke di kamar hotel Lingga Pesona beberapa tahun lalu itu, curhat dan te’par cantek dia. ( makanya jangan cerita jago minum , nanti kena tuba )
Jalan Daik – Resun sebenarnya dekat, tapi karena aspalnya belubang dan kasar maka kendaraan tak bisa digeber laju disini, sayang sama suspensinya. Lainlah kalau pake trail dan jip yang suspensinya bagus, lantaklah sesuka hati kalau memang suka memompa adrenaline paling ujung-ujungnya nabrak babi atau nyangkut dipohon. Setibanya di Resun kami tertahan sejenak menunggu bot pancung yang akan membawa ke Pancur, Si Brahem sibuk berbual dengan kawan – kawan lama dia yang hendak menuju Senayang untuk main bola kaki, sedang ada turnament di Senayang rupanya. Tak lama kemudian kami pun naik bot pancung, melaju meliuk liuk mengikuti aliran sungai yang banyak bakau dikiri kanannya itu. Aku sempat berangan saat itu , berangan ngebut disungai itu dengan bot bermesin tempel 100 PK berkecepatan penuh..Beeuhh seru kaeknya tuuh. Belum panas pantat ini duduk tapi bot yang kami tumpangi sudah tiba di Pancur, sebentar kali lah, tak puas rasanya menikmati enaknya melaju diatas bot itu.
Dari Pancur kami lanjut menuju Pulau Penaah , Pak Mat Lazim yang akan mengantar kami dengan pompongnya. Selain aku dan Brahem ada dua orang lagi yang menumpang pompong carteran itu, tarifnya 200 ribu sekali jalan. Dimusim angin kencang seperti saat kami pergi ini jika hendak ke Penaah sebaiknya pakailah pompong, jangan bot pancung. Bot pancung tidak cocok untuk membelah gelombang karena lambungnya tidak sedalam pompong , bot pancung rawan terbalik karena lebih oleng dari pompong jika dihantam gelombang dari samping.
Begitu melewati Tanjung Mana pompong mulai menari – nari oleng kiri oleng kanan, Mat Lazim berdiri memegang kemudi, ia mengenakan jas hujan dan helm, biar tak basah disiram air laut . Kami berempat duduk di palka depan, aku dan Brahem berhadap-hadapan. Si Brahem duduk bersama Si Iin, pegawai puskesmas pulau Penaah, sesekali Iin memegang tangan Brahem, mencari tumpuan saat haluan pompong dilambung gelombang, pertama Iin malu – malu selanjutnya malu-maluin , lebay deechh...pegang aje lah Dek kuat – kuat jangan dilepas – lepas , bang Brahem tu tak gigit orang lah. Dan Brahem pun tampil gagah mengayomi sang perawat .hahahaha..ulat bulu dah naek daaooonnn. Brahem lahh pulak!!
Ini adalah yang untuk ketiga kalinya aku melayari rute Pancur – Pulau Penaah, dua pelayaran sebelumnya dengan kapal ferry Batavia yang dicarter buat mengangkut peserta dan wartawan saat Lingga Fishing Festival, aku ingat saat itu dimana aku merasa minder lantaran ada tim liputan dari Trans 7, Trans TV dan Antv yang ikut serta dikapal itu, terasa agak risih ketika aku memakai kaos bertulis “Journalist On Duty” bersendal jepit dan jeans belel robek yang buntutnya aku jadi dipandang dari ujung kaki sampai ujung rambut oleh beberapa diantara mereka, kok sepertinya penampilan aku jadi sorotan, ada sedikit penyesalan kenapa waktu itu aku tak tampil gaya dengan merk – merk yang selama ini identik dengan high quality adventure wear, “catterpillar lo kalah butut daahh ama gua punya, biasa aja dong bro..gwa anak tanjungpinang, sepatu kaek gitu jaman es em a udah puas gwa pake, kakek gwa jaman baheula udah pake Bally, dah pake Levi’s “..gitulah kira – kira balas aku sombong andai orang tu memang judging the book by his cover. Hahahahaha. Yang aku ingat saat itu ada cewe cantik yang belakangan baru aku tahu dia seorang presenter di Trans TV yang aku tak tau siapa namanya, biaselah ...awak ni minder nak kenalan same cewe , apelagi die keje di tv nasional, sementare awak cume photografer tabloid lokal Kepri, padahal mungkin limu de lebih kurang je ma awak, meski jelebau – jelebau gini awak jugak kuliah di broadcasting cume sengaje tak nak keje kat jakarta, dari pada orang luar ngarok kat kampong awak bikin program tv tak de local taste bagos awak kat kampong je lah,mungkin bise do something with pride here, cume sayang sampai saat ini belom ade tv lokal di Kepri yang menurut aku “ngangkat” jadi belum sudi nak keje kat tv lokal kepri.
Satu jam kemudian pompong tiba di Pulau Penaah , saat kami naik ke pelantar Mat Lazim Sang Tekong Pompong langsung ngomong kaek gini “ Cerie teros ikak ikak ni ye, alun sebesa-besa tidak tu ikak bantai benyanyi pulak kat atas pompong, musek ade takot de, puas juge hambe membawak orang tapi baru ikak – ikak ni lah yang laen pese’n , berani bena , lua biase” ujar Mat Lazim salut pada Brahem dan Aku yang sepanjang pelayaran tadi terus bernyanyi sambil buka baju di atas laut yang menggelora di siang bolong. Ya kami tadi besenandung guna mengusir takut dihati , kami terus bernyanyi sampai menjelang Penaah, Spirit Carries On nya Dream Theater, Balada Pelaut dan lagu Batak Sai An Ju Mau diulang – ulang terus , paling jeda sebentar untuk membuang air laut dari dalam mulut. Hahaha.... We Are Born to be Wild Pak Lazim.( Padahal buah pele dah sejuk tadi ).
Dua malam kami tertahan di Pulau Penaah karena tidak ada pompong yang mau mengantar kami ke Pulau Mensemut, alasannya angin masih kencang . ( nak tunggu teduh bile mase pak cik ? musim tare ni, monsoon invasion bro ). Selama di Penaah si Brahem sibuk snorkeling dan mancing, sampai – sampai dia mancing diatas batu karang yang dianggap “ tempat terlarang “ bagi warga Penaah, batu itu dikenal dengan nama Batu Mala, beberapa tahun dahulu ada warga Penaah yang berkarang dan mengambil ranga ( sejenis kerang kima ) yang ada disekitar batu itu, malam harinya orang itu demam panas , kononnya tersampok mahluk puake Batu Mala, didalam mimpi seorang sesepuh Penaah dikatakan sang mahluk penunggu Batu Mala minta ranga itu dibalikkan ketempatnya semula . Apa lacur sang ranga dah jadi taik, dah disantap. Gimana mau dibalikin. Buat menggantinya ditawarkanlah mulai dari ayam, kambing sampai Lembu sebagai penebus ranga itu, negosiasi deadlock, Nyawan dibayar Nyawa, begitu keputusan Mahluk Batu Mala. Maka tak lama kemudian meninggal dunialah orang yang demam panas itu. Boleh percaya boleh tidak, aku cuma menulis apa yang aku dengar bukan apa yang aku percaya. Kisah itu pun aku dengar saat sedang maen goli bersama ibu-ibu dan anak anak pulau Penaah, saat Brahem sedang sejadi-jadinya berdiri diatas batu karang itu, dan aku tak sedikitpun berusaha mengingatkan dia tentang cerita dan pantang larang yang aku tahu barusan itu. Mati itu urusan Allah.
Penaah mulai gelap,suara genset berganti dengan deru angin yang masuk menghembus dari sela – sela dinding papan dan jendela, Brahem tidur pulas, aku bangun dari tilam dan beranjak keluar dari rumah Pak RW tempat kami menumpang tidur, pukul 11 .40 malam. Aku berjalan dalam gelap mengikuti jalan semen yang mengarah ke pantai busong Penaah, sinyal di layar HP mulai naik setiang dua tiang, makin di pantai makin kencang sinyalnya. Aku berbaring dipasir, menatap bintang dilangit, angin pelan menghembus tubuhku, membuat pasir – pasir sedikit berterbangan, hood jaket aku naikkan sedikit, mencoba menutup wajah dari pasir yang sedikit mengganggu ini. Hanya ada suara angin. Sambil terus memandang indahnya cipataan Allah diatas sana aku pun bernyanyi pelan , melantunkan lirik Pictures of You nya The Cure. Akhh inilah yang aku benci dari sebuah perjalanan disaat aku mulai merindukan orang – orang terdekat ku, saat tune rocknroll ku berubah jadi mellow. Di suasana sesyahdu ini harusnya ada kawan biar bisa berbagi tapi aku malah sendiri didinginnya malam. Sayangnya saat ini my fulltime lover parttime friend tak ada disebelahku, jadi aku buka facebook, update status dan berbagi hati dengan kawan – kawan yang entah lagi dimana – mana itu. Ada yang comment , ada yang likes, dan aku berterimakasih buat mereka didalam hati. “ berbaring sendiri dipantai penaah sambil menatap bintang dilangit. Sayang tak ada lagu Anyer 10 Maret Slank dan Pictures Of You The Cure, kalau tidak sempurnalah rindu ku ini “ kalau tak salah begitulah bunyi status FB ku malam itu untuk sekedar berbagi dengan jujur, tanpa bermaksud riya . Silent karaoke malam itu ku lanjut dengan lagu dari Scorpions, Lady Starlight.
“i see the stars, theirs miles miles away, like our love , Lady Starlight help me tonite, help me to find, to find my love “. Cinta yang aku maksud disini bukan hanya soal percintaan layaknya kekasih, kalau untuk itu aku tak perlu jualanlah disini, tapi ini cinta yang sampai sekarang aku tak mengerti, cinta pada diri sendiri, karena sepertinya aku tak pernah menyintai diriku sendiri dengan mencari pekerjaan tetap yang baik untuk masa tua ku, .( kalau memang itulah inti dari menyintai diri sendiri mungkin sampai tua aku takkan pernah punya pekerjaan tetap buat menghidupi diri ) .Ketika banyak orang sibuk menjadi pegawai negeri dan mencari pekerjaan tetap dengan gaji lumayan biar masa tuanya aman sejahtera aku malah masih terus maen – maen seakan aku ini anak orang kaya yang punya banyak harta warisan jadi tak perlu kerja keras untuk menghidupi diri, padahal bapak aku cuma nelayan dan buruh kasar yang sekarang buka usaha warung kelontong dan tamatan kelas empat esde dan Mak aku cuma ibu rumah tangga yang nyambi jualan lontong didepan rumah yang hanya tamat esempe. Tapi entah kenapa aku merasa belum mau bersusah payah menyiapkan masa tua ku, mungkin karena belum menyintai diri sendiri kali yaa.
Sambil fesbukan aku teleponan dengan Aini yang berada 80 mil laut jauhnya dari ku malam itu, aku pinjam hape Brahem tadi sebelum beranjak ke pantai busung Penaah ini,hape dia buat jaga – jaga andai pacaran onlinenya terkendala karena hape lobet, si Aini sibuk suruh aku pulang.
“ napaen malam – malam gini dipantai tu sendiri,tempat tu laen siket. baleklah”
“ Selow lah beib, kalo kat rumah tu sinyal de bagos napaen jugak awak kesini, ya kan? , besok awak dah ke mensemut, entah ade sinyal entah tidak. Sempat – sempatkan dululah.”
Tengah seru – serunya telponan tiba – tiba terpandang pulak sesuatu yang dari dulu sudah awam aku lihat. Ada semacam bara api yang mengapung di bibir pantai, mirip kaek sabut kelapa dibakar, jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempat aku baring. Kebanyakan masyarakat pesisir Kepri ini menamai “mahluk” itu dengan Jerambang, konon itu matanya hantu laut. Ada bau anyir yang perlahan aromanya makin kuat tercium ke hidungku. Karena sambil telponan dan fesbukan jadi rasa takutku belum timbul. Kau cantek aku cantek, awak tak ganggu e..pon kalau awak ganggu awak minta maaplah. Laut ni luas, kat mane – mane beting kau boleh maen, sementara cume kat sini lah awak dapat sinyal, jadi agak – agak sabar ye tok, kalau bulu ketiak dah seram baru awak cabot. Setelah ku update status facebook bercerita tentang penampakan jerambang itu dan Aini pun ngotot suruh balik kerumah saat itu juga ,aku pun langsung mengiyakan.
Malam kedua di Pulau Penaah aku dan Brahem melewatinya di atas kelong tak jauh dari Pulau Penaah. Kail yang aku lempar tak disambar ikan sama sekali, hanya kail Brahem yang berhasil membodohi seekor ikan pari kecil dan seekor ikan todak. Arus surut mulai terasa sedikit menggoyang kelong, hanya sebuah getaran kecil sihh, yang terasa dikala kita baring diatas lantai kelong itu dan memejamkan mata. Tok Idin si empunya kelong sudah terlelap dibalut kain sarung lusuh, selusuh guratan keriput diwajah tuanya itu. Ia sudah 32 tahun berkelong disitu, dititik tempat kelong itu berada sekarang dan ini entah kelong keberapa yang ia dirikan disitu, dilaut berkedalaman tujuh meter. Selama 32 tahun sudah ia menyaksikan pasang surut jumlah ikan bilis yang ia tangkul disitu, dari harga ikan bilis masih 200 rupiah sekilo sampai sekarang berharga 40 ribu. Ketika aku tanya dimana tempat kencing di kelong ini dia bilang terserahlah mau dipancar dimana. Tak ada pantang larang di kelong dia ini, tidak ada sama sekali. Waahh, baru kali ini aku jumpa kelong yang bisa sembarangan, tak ada pantangan, tak ada larangan sama sekali. Mungkin karena separuh hidupnya dihabiskan Tok Idin diatas kelong jadi dia sudah malas untuk mengikuti tata krama perkelongan, di usia senjanya ini mungkin ia ingin menikmati hidup dikelong tanpa aturan yang selama ini lazim ditemui dalam adab orang berkelong seperti tak kencing sembarangan, tak memancing didalam tangkul, tak mabuk-mabukan dikelong, tak boleh bersiul, tak boleh menaikan perempuan yang haid ke kelong dan macam- macam adab lainnya itu.
Brahem duduk ditepi kelong dan masih sabar menunggui tangkapannya dengan joran itu. Aku berbaring diatas galang andang tepat ditengah kelong, melihat ikan bilis yang mulai berkumpul bermain dibawah sinar empat buah lampu petromak yang tergantung setengah meter diatas air laut. Sotong dan cumi memulai perburuannya.mengejar ribuan ikan bilis yang sedang berenang memutari cahaya lampu. Sesekali ikan tamban dan pelate ikut bergabung memangsa ikan bilis. Aku asyik memperhatikan pemandangan itu yang sudah hampir 10 tahun tidak aku temukan. Pemandangan sebuah proses hukum alam yang tidak sebrutal hukum alam di liarnya Afrika, Yang besar memangsa yang kecil, yang kecil mengecoh yang besar, kelak kita-kita lah yang memangsa sotong cumi dan bilis itu. Terakhir aku menghabiskan malam di kelong lebih kurang sepuluh tahun yang lalu disebuah kelong milik kerabat yang terletak di Pulau Lelang , sekitar Pulau Kentar Senayang. Dulu aku sampai seminggu di kelong tanpa menginjak daratan sama sekali. Sekarang mungkin tidak bisa lagi. Waktu seminggu itu dihabiskan dengan makan – tidur – mancing – masak – berenang – mengganja - ngebir. Setelah pulang kedarat pun langsung mandi, buang daki yang menebal setelah seminggu cuma mandi air laut tanpa dibilas air tawar,paling hanya kena air tawar untuk mencuci muka dan gosok gigi. Yah, lebih kurang sudah sepuluh tahun yang lalulah waktu berlalu, waktu dimana aku berada dipersimpangan untuk memilih jalan hidupku. Masa dimana apakah mau memilih petualangan bersama my secret society yang cutting edge crazy morron dangerous ultimated excited dalam secret operation-nya atau memilih mendengarkan jeritan bathin seorang wanita yang telah bersusah payah membesarkan aku. Masih teringat petang itu ketika Mak menangis menyuruh aku untuk kembali bersekolah lagi sambil membungkus lontong yang akan direbusnya hingga aku diam terpaku dengan benak yang berkecamuk sejadi-jadinya. “ arep lah anak kami lagi, abang dah lepas sekolahnye , mak dan bapak masih sanggup nyekolahkan kau lagi, sekolah lah nak” pinta mak pada aku dengan matanya yang berlinang. Selanjutnya aku pun keluar dari rumah, menyepi di pulau membawa galau dihati dengan segepok duit didalam tas and go get some Drink, Drug and almost Death !! Dan akhirnya, aku mengambil pilihan yang kedua, mengambil peran sebagai anak yang ingin membahagiakan orang tuanya, mencoba membuat orang tuanya bangga ( lagi ) , dan mengubur mimpi mencari petualangan bersama mereka yang aku namai The Xtranstraits, yang hilang tak berbekas. [See You In Hell Guys..!! ]
Siaran Radio Bunda Tanah Melayu mengabarkan sekarang telah lewat pukul 11 malam, sang penyiar yang bernama Eki terdengar begitu populer dan ramah menyapa pendengar radio itu yang menelpon dan berkirim sms merequest lagu dan berkirim salam. Senang rasanya bisa mendengarkan musik lagi, radio butut Tok Idin yang tanpa subwoofer dan jauh dari stereo itu terasa begitu berarti fungsinya malam itu, menjadikan malam dikelongnya riuh dengan suara musik. Tampaknya stasiun radio satu-satunya di Daek itu punya jangkauan pendengar yang luas, ketahuan dari penelpon yang mengaku dari berbagai pelosok kabupaten Lingga. Segmentasi radionya tampak lebih pada hiburan, sayang mereka tidak banyak menggarap pemberitaan, padahal jika mereka serius mengemas pemberitaan seputar kejadian dan fenomena di Kabupaten Lingga aku yakin radio itu akan cepat besar, dan bisa kaya rayalah si empunya radio, bakal ada banyak orang membawa uang meminta berita kasus mereka tidak disiarkan. Lapan enam , Lapan enam.
Karena lagu requestnya bermacam- macam aliran musik jadi gado- gado lah juga suara yang keluar dari radio RBTM itu, saat lagu SKJ nya ST12 diputar rupanya menggangu pendengaran Tok Idin , ia terjaga dari tidurnya dan mencari stasiun radio lain, ia berhenti di saluran RIA 89.7 FM Singapore yang sedang memainkan I Dont Love U nya My Chemical Romance, baru saja aku mau larut menikmati lagu itu alih alih Tok Idin langsung mengganti siaran lagi..
”bro, nampaknye kite ikot selere musik Tok tu tros ni, dah bagos- bagos lagu tu eeh dituka die pulak”
“ Kelong, kelong die,radio, radio die,kite cume numpang rocknroll je kat sini wak, kene ikot selere die lah ni, hahahaha” kata si Brahem membalas ku, kami pun tertawa lebar.
Sekitar pukul empat pagi Tok Idin bangun dari tidurnya untuk memutar tangkul, saatnya menaikkan tangkapan keatas kelong. Aku yang masih muda ini belum tentu kuat untuk memutar tungkai tangkul itu tapi Tok Idin dengan entengnya menggulung tali tangkul lewat tungkai itu dengan dua kaki dan tangannya, pemain lama lah pulak!! Hasil tangkapan malam tak banyak tapi lumayanlah, ikan bilis tiga ancak, beberapa kilo cumi dan ikan tamban. Cuminya sebagian jadi santapan aku dan Brahem, cumi segar yang langsung di bakar kedalam bara api terasa begitu lezat saat tiba mulut, 100 % newly fresh from the sea,absolutely marvelous meski tanpa bumbu sama sekali. Perut yang lapar kini kenyang, Tok idin sibuk merapikan tungku masak, aku dan Brahem duduk diluar kelong sambil kembali melempar pancing, berharap ada ikan tenggiri yang mau sarapan dengan umpan ikan tamban di subuh itu. Tunggu punya tunggu ikan tenggirinya pun tak datang-datang. Bosan mulai menyerang, untunglah tak lama kemudian terdengar riuh suara burung – burung berkicau dari rimbunan hutan bakau tak jauh didepan kami. Beeuhh.... suara Mariah Carey yang sampai delapan oktaf itu kalah seribu kali kalah merdu dengan nyanyian burung – burung pagi itu. Gelapnya malam perlahan mulai sirna berganti dengan langit pagi hari yang cerah, kami bertiga berlayar dengan sampan menuju Penaah diiringi kicauan burung, Tok Idin duduk paling depan sambil menghisap kreteknya, Brahem yang duduk di buritan sampan masih sibuk dengan joran yang belum disambar tenggiri, dan aku terus mengabadikan momen kami itu dengan memory card 2 Gigabyte di camera DSLR dan di memory berkapasitas ribuan trilyunan terabyte di hardisk pemberian Allah bernama otak.
Setelah dua hari menunggu akhirnya pukul 9 pagi itu kami bertolak ke Pulau Mensemut dengan pompong berukuran 28 kaki, membawa muatan 3 sak semen, 5 jerigen air tawar, 2 keping atap seng,sebuah dinamo las , satu toples besar kue lampam bikinan istri Bang Ai,Pak RW Penaah.,. Di belakang ada Iwan yang bertindak sebagai tekong dan Tok Idin yang kaeknya lebih tepat sebagai Kapten, karena dia lah yang paling tua diantara kami dan pasti sudah akrab dengan riak gelombang perairan tepi Selat Karimata ini, jadi mungkin bisa memandu Iwan untuk bermain gelombang. Brahem duduk diatas karung semen, matahari pagi tepat menyinari wajahnya. Aku duduk diatas dek haluan bersama Bang Ai membelakangi cahaya matahari. Bang Ai mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah pulau kecil yang ada di sebelah kiri tak jauh dari kami. “ Itu die yang namenye Pulau Hantu Ep, pulaunye pak Datok”. Aku mengangguk mengiyakan. Senang rasanya mengetahui leluhur ku memiliki sebuah pulau di sini, aku anggap pulau itu sebagai salah satu lagi bukti legitimasinya sebagai seorang Dato Kaya selain segala warisan budaya, legenda dan kebesaran nama yang ditinggalkannya. Terlintas nama Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati , Hang Tuah, Megat Inu, Raden Kuning, Montel, Temenggung , Seman, Kahar,Mepar, Gunung Daik, Bahtera Lingga, Tanjong Datok.
Pelayaran kami ke Pulau Mensemut pagi itu berlangsung baik – baik saja , angin kencang, alun gelombang besar, beberapa kali pompong oleng hingga terdengar bunyi kipasnya yang keras menandakan ia tidak sedang berada dibawah permukaan air laut dan kami semua tidak ada yang muntah kuning. Satu setengah jam kemudian kami tiba di Pulau Mensemut, Iwan don Tok Idin langsung kembali ke Penaah, mencoba secepat mungkin tiba di Penaah sebelum awam hitam yang menggantung diatas garis horison berubah menjadi badai.
Brahem yang sebelumnya sudah pernah ke Mensemut terlihat akrab dengan orang – orang disana, kami bertamu ke rumah Pak Enggut, kepala suku laut disitu. Brahem langsung ditagih dengan DVD film – film pesanan Pak Enggut, apa lacur ia lupa membelinya saat masih di Tanjungpinang. Tak susah buat kami berdua berbaur dengan masyarakat disana karena pada dasarnya mereka ramah dan welcome dengan orang luar, mereka tidak lagi hidup nomaden dengan sampan berkajang itu. Mata pencaharian mereka adalah nelayan, laut mensemut masih menyimpan banyak hasil laut yang lebih dari cukup untuk menghidupi penghuninya,ikan – ikan disini dihargai sampai tiga kali lipat saat tiba di Batam atau Tanjungpinang, dan akan dihargai lebih dari kali lipat saat dijual di Jurong Central Fish Market Singapore. Meski tinggal di rumah – rumah sederhana yang sebagian masih berdinding kajang mereka sebenarnya tidak miskin – miskin kalilah, hanya karena tinggal di pulau kecil yang terpencil jadi mereka tidak menginvestasikan uang dalam bentuk rumah bagus dengan perabotan bagus pula. Dipulau ini tidak ada sumber air tawar selain air hujan, tidak ada jamban disini, kalau mau buang hajat ya cukup nongkrong di tepi pantai. Aku beberapa kali tanpa sengaja berjumpa dengan orang sedang berak itu saat berjalan di pantai. Bayangan sebuah suku laut yang primitif, tertutup, bau anyir dan dekil jauh sama sekali dari masyarakat di Mensemut ini. Cologne, Shampoo, Sabun mandi dan sabun cuci sudah lazim dirumah – rumah mereka,perangkat hiburannya masih dengan tv parabola dvd dan radio tape. Si Juni anak bujang Pak Enggut sudah kenal internet, facebook dan Maria Ozawa , meski dia sempat kecewa saat mengetahui tidak ada file bokep di hp ku dan hp Brahem. Beberapa pemuda dan abang – abang disitu berharap kami membawa laptop berisi film atau apa saja yang bisa mereka tonton bersama. ( Laen kali awak bawa laptop lah bang, kite bebagi ilmu ). Saat dibilang Bang Ai aku masih cucu dari Pak Datok Kaye si Pak Enggut langsung menatap ku dalam – dalam , entah apa yang ada dibenaknya. Entah apa yang sedang diterawangnya dariku. “ Saye mengaku saudare lah dengan ikak Ep, sampaikan salam saye dengan Dato Kaye Mude” . Didalam hati aku miris dan senang. Miris karena potret seorang cucu dari keluarga besar Dato Kaya yang alim, berwibawa dan kharismatik sama sekali jauh dariku.Gaya hidupku jauh dari kaidah – kaidah budi pekerti yang istiqamah. I’m just a piece of shit!! Senang karena sebentar lagi macam kampong sendirilah kelakuanku di pulau ini. Kepala sukunya dah awak pegang. Amanlah semuanya.
Sekitar abab ke 14 seorang Pendekar bergelar Megat Inu beradu sakti dengan Tok Ma’ya ( seorang kepala suku laut lingga ). Tok Ma’ya menumbangkan jajaran pohon besar yang nun jauh didepannya dalam sekelebat ayunan tangan tanpa berganjak sedikit dari tempatnya berdiri. Megat Inu mematahkan puncak Gunung Daik dari tiga menjadi dua. Patahan itu kini bernama pulau Pandan yang terletak didepan Mepar Tanjung Buton Daek. Melihat itu Tok Ma’ya mengakui keunggulan Megat Inu, sejak saat itu Tok Ma’ya mengaku mendaulat Megat Inu dan semua keturunannya sebagai raja dan saudara mereka, mereka tunduk setia taat pada titah Megat Inu yang kelak menjadi cikal bakal Dato Kaya. Maka sampai hari ini keluarga dekat keturunan Dato Kaya selalu dihormati dan mendapat perlakuan istimewa oleh orang suku laut di Lingga, dan hari itu untuk kesekian lakinya terbukti ketokohan nama besar mereka – mereka itu. Abang ku pernah disambut baik dilayan hormat saat melakukan proyek sosialnya di Pulau Kasu dan Teluk Nipah Batam oleh warga suku laut disana saat tanpa sengaja ditanya asal usul dia oleh kepala sukunya. Orang suku laut adalah orang asli Kepulauan Riau. Jauh sebelum Sriwijaya melebarkan sayapnya, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia mereka telah menghuni Kepulauan Riau. Mereka adalah suku yang tidak bisa hidup berdampingan dengan orang diluar mereka, semula mereka tinggal menetap didaratan, saat pendatang mulai masuk ke lingkungannya mereka akan menghindar dan pergi mencari tempat baru yang belum dihuni orang, lama kelamaan gaya hidup itu berubah menjadi betul – betul nomaden dengan tinggal diatas sampan, menjelajah dari satu pulau ke pulau lainnya. Tapi itu cerita orang suku laut jaman dulu. Orang suku laut jaman sekarang sudah ada yang jadi arsitek, jadi kepala pelabuhan Tanjung Priok. Dan orang suku laut di Pulau Mensemut sudah memeluk Islam meski dulu sempat tidak beragama. Mereka tidak lagi bertukar istri, sudah diajari Bang Ai tentang nikah dan talaq, sudah diajari Bang Ai tata cara mengkebumikan manusia setelah sebelumnya main buang saja jenazah saudara mereka yang meninggal dunia dengan ditenggelamkan kedasar laut atau cukup dengan membiarkan jenazahnya diikat terapung diujung tanjung. Dari jenazah berubah menjadi mayat kemudian menjadi bangkai, bangkai yang tak bertulang karena hanyut entah kemana dibawa arus.
Pulau Mensemut tiga puluh tahun yang lalu pastilah lebih indah dari sekarang, hamparan batu karang yang ada sekarang memperlihatkan betapa dulunya pulau ini adalah laguna indah dengan karang – karang yang eksotis sebelum ia hancur berkeping – keping seperti hari ini, hancur karena dibom dan dibantai potasium sianida, dan Pak Enggut salah satu pengebomnya. Sejak sinyal HP mulai menyambangi pulau ini sudah sepi dari penjarahan ikan dan pengeboman ikan, karena masyarakat bisa melaporkan kegiatan ilegal itu pada aparat yang berwenang. Ayah Pak Enggut adalah pawang Pulau Mensemut, “piaraan” peninggalannya banyak dilepas yang dulu selalu menjaga pulau itu, namun kini semuanya sirna, Pak Enggut mulai sadar ilmu – ilmu itu bertentangan dengan agama yang dianutnya kini dan mulai meninggalkan ritual – ritual syirik itu. “Mahluk piaraan” itu dulu suka usil dengan penduduk dan orang – orang yang mampir ke Mensemut. Kencing sembarangan tak pake permisi nanti bengkak burung kita, memekik-mekik tak tentu arah nanti kesurupan, menurut cerita Pak Enggut saking usilnya mahluk –mahluk itu pernah dulu ada kapal kargo yang kandas di pantai Mensemut lantaran sang kapten kapal melihat ada lampu suar baru disitu, jadi ia mengarahkan kapalnya sedikit mendekati arah lampu suar, begitu kandas mereka baru sadar rupanya tidak ada mercu suar disitu. Padahal disekitar Mensemut hanya ada dua menara mercu suar, di Tanjung Nyang dan di Pulau Kentar tapi malam itu jurumudi menemukan ada satu lagi cahaya mercu suar. Menurut Pak Enggut kejadian itu karena isengnya mahluk – mahluk itu.
Pulau mensemut kini terancam abrasi, beberapa bagian pulau itu membutuhkan tanggul pemecah gelombang untuk mencegah pengikisan tanah yang disebabkan hantaman gelombang laut. Mesjid satu-satunya yang ada disitu kini rusak parah karena ditimpa pohon tumbang , Bang Ai mulai sibuk mencari donatur yang sudi membantu perbaikan mesjid itu. “ Kalau ade mesjid kan terdengar jugak bunyi adzan disini Ep, biar terase jugaklah suasane dah beragame kat sini, memang kite bukanlah alim – alim sangat tapi kalau tak ade yang shalat sama sekali kat pulau ini laen betol lah rasenye” tutur Bang Ai padaku, pulau mensemut adalah salah satu dari empat pulau dibawah kendalinya sebagai ketua RW Penaah.
Selama di Mensemut aku dan Brahem betul – betul enjoy menikmati laut, kalau sudah bosan memancing kami snorkeling mencari ranga sambil menikmati keindahan terumbu karang yang tersisa disana. Ikan karang disini besar – besar jadi sedap menarik pancingnya, terasa ada sedikit perlawanan dari ikannya. Kami tak peduli kulit menghitam disiram sinar matahari, asal hati tidak ikut hitam . Perkiraan ku bahwa akan ada gelombang yang bagus buat main selancar ternyata meleset , tidak ada badai besar ditengah Selat Karimata sana yang bisa mengirim gelombang – gelombang tinggi yang bisa kami tunggangi dengan surfboard busuk aku ini. Di suatu siang saat hujan lebat mulai reda dan air laut pasang kami memanfaatkan surfboard itu untuk mencari sedikit keriangan, Aku, Brahem dan Juni bergantian menaiki surfboard yang kami tarik dengan pompong, Juni dan Brahem yang baru pertama kali merasakan pengalaman itu terlihat begitu menikmati mainan baru mereka siang itu, its too slow to furiuos but its rrockks!! Jauh lebih seru ketimbang naik banana boat. Aku yang dari kecil sudah akrab maen dilaut merasa tidak menemukan kenikmatan dengan yang namanya banana boat, big marble atau flying fish sekalipun yang banyak disajikan di resort – resort itu. Alasan pertama karena mahal ( time duet tak de memang lah mahal tapi time lagi duit banyak terase kacang ajalah tu duit due tige ratus ribu tu ), alasan kedua karena tidak suka dan ketiga gak penting kali lah mainan kaek gitu ma awak nih. Main di laut dengan sesuatu yang unmotorised terasa lebih “ soulfull “ daripada dengan yang bermesin.
Setelah tiga malam di Mensemut aku memutuskan untuk pulang, takut besok angin makin kencang yang kalau menyeberang dengan pompong kecil akan sangat tidak nyaman. Dan sore itu laut kembali menggelora saat aku berlayar menumpang sebuah kapal penampung ikan dari Pulau Mensemut menuju Penaah, beberapa kali air laut masuk ke geladak kapal, gelombang mengayun kapal oleng kekiri kekanan dengan kemiringan yang entah berapa derajat tapi cukup untuk membuat pantat ini bergeser jauh dan kepala terantuk dengan dinding dek kapal. Setelah mengambil ikan di Penaah kapal itu lanjut pulang ke Pancur. Karena tadi membantu menumbuk rempah saat awak kapal memasak ikan jadi aku agak tidak malu – malu saat mereka menawari untuk ikut makan, perut yang memang sedang lapar berat membuat lauk gulai yang kurang ku sukai itu terasa nikmat sekali, apalagi makannya sambil duduk diatas atap kapal yang kini tidak lagi oleng karena sedang berlayar didalam selat.
Menjelang maghrib kami tiba di Pancur, setelah pamitan dan berterimakasih pada awak kapal atas tumpangannya aku pun berlalu pergi menuju sebuah wisma, mengambil kamar yang sama saat aku disini dua bulan sebelumnya. Dulu kamar ini penuh dengan barang bawaan ku, ada tripod, kamera video, laptop, uang jutaan rupiah dan sebagainya. Kini yang ada hanya aku, setumpuk pakaian kotor yang basah dan uang yang tak lebih dari dua ratus ribu rupiah. Akh, aku kembali terjebak dikamar berukuran 2 x 2.5 meter bercat putih seorang diri. Hujanpun kembali turun. Sendiri itu dingin.
Gugusan Gunung Daik terlihat masih tertutup awan, hujan malam tadi menyisakan mendung yang tampak masih menggantung dilangit. Sambil melahap nasi lemak dan teh panas aku mengamati pemandangan sekitar Pancur pagi itu. Pompong yang membawa anak sekolah tampak tak pernah bosan mengantar murid – murid itu pergi belajar. Bot pancung yang membawa penumpang dari Resun melaju dengan indahnya diatas perairan yang tenang itu, rutinitas pagi yang terus diulang tanpa bosan. Pancur sedang digadang-gadangkan dengan jargon “wisata belanja “ oleh Bupati Lingga, tak ada Mall disini, tak ada mini market disini, tak ada distro disini, tak ada apa – apa disini, hanya ada potret sebuah perkampungan dengan rumah dan kedai dikiri kanan sungainya, jargon itu rupanya bisa dibuat lebih panjang “berwisatalah sambil belanjakan uang untuk makan dan minum selama anda di Pancur “.
Sirene pertama speed boat Giam Mas berbunyi tanda setengah jam lagi kapal akan berangkat , masih jam 7 pagi. Aku menghampiri kerani speed boat. Dia masih kenal dengan aku rupanya. Aku menumpang kapal itu kembali ke Tanjungpinang cukup dengan membayar setengah dari harga tiket. Dengan kartu pers ku ini sebenarnya aku bisa dapat dispensasi kalau menggunakan kapal seperti ini, tapi “fasilitas” itu jarang kugunakan, kecuali kalau sudah kepepet barulah aku jual “ekslusifitas” profesi itu. Akh aku harus mengakhiri petualangan ku lagi, kini aku kembali berbaur di tengah Tanjungpening ibukotanya Kepulauan Risau dan hidup bersama ratusan ribu manusia dengan sejuta topeng kehidupan. Kalau begini terus rasanya aku lebih baik tinggal dipulau saja, sendiri. Hidup dengan hukum Tuhan dan Hukum Alam, tanpa kemunafikan. ( T.U 20/1/10 )
